berita2.com (Kupang): Bupati Timor Tengah Selatan, Paul Mella mengatakan daerahnya saat ini menjadi target traffiking atau perdagangan orang terutama anak-anak, karena masalah ekonomi dan pendidikan.
"Timor Tengah Selatan sekarang jadi target traffiking dari oknum yang tidak bertanggungjawab," kata Paul Mella di Kupang, Senin 20 Desember 2010.
Dalam sebulan ini di kabupaten tersebut terjadi dua kasus yang diduga traffiking. Di mana, pada Kamis 25 November 2010 sebanyak 11 anak yang diduga korban traffiking diberangkatkan ke Jakarta. Namun, berhasil di kembalikan ke daerah asalnya.
Belum genap sebulan, sebanyak 13 anak asal Desa Oenlasi, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Rabu 15 Desember 2010 kembali diduga menjadi korban traffiking. Anak-anak yang berusia diantara 8-23 tahun tersebut rencananya akan diberangkatkan ke Porong Sidoarjo.
Guna mengantisipasi kasus traffiking di daerah tersebut, menurut dia, pihaknya telah menginstruksikan kepada para camat dan kepala desa untuk perketat pengawasan dalam perekrutan anak-anak.
Perekrutan anak-anak di daerah itu, katanya, harus dilengkapi dengan dokumen yang sah dari orang tua dan aparat desa atau kecamatan. "Selama ini yang terjadi anak-anak yang direkrut tanpa dokumen dan ijin dari mana pun, sehingga kita anggap itu trafffiking," katanya.
Selain itu, dia meminta kepada masyarakat untuk peka terhadap setiap jasa tenaga kerja yang akan merekrut tenaga kerja di daerah itu. "Harus dicari tahu, apakah perusahaan itu legal atau tidak, dan direkrut untuk apa. Sekalipun orang itu masih keluarganya," katanya.
Dia mengakui penyebab maraknya kasus dugaan tarffikin di daerah itu, karena masalah ekonomi masyarakat dan pendidikan yang rendah. "Masalah ekonomi dan pendidikan menjadi faktor utama terjadinya traffiking," katanya.
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya