berita2.com (Kefamenanu. NTT): Hingga pertengahan bulan Februari ini, lima balita derita gizi buruk saat ini dirawat di RSUD Kefamenanu-NTT status gizi buruk pada lima balita ini baru diketahui saat berobat penyakit bawaan seperti diare maupun D-B-D, lima balita ini berasal dari keluarga tak mampu.
Balita penderita gizi buruk di Rumah Sakit Umum Daerah Kefamenanu NTT mulai bertambah pada bulan januari 3 dirawat sementara pada awal februari saja sudah lima pasien peningkatan jumlah balita ini diketahui saat menjalani perawatan penyakit bawaan sebelumnya seperti diare dan DBD.
Kebanyakan pasien baru dibawa ke rumah sakit saat kondisi kritis, kondisi fisik terlihat kurus pada tangan dan kaki kepala dan perut membesar, serta tidak suka makan hingga kondisi fisik balita terus menurun, menurut dokter Mervin, sejak awal bulan Januari hingga pertengahan bulan ini, sudah 5 balita gizi buruk dirawat.
“Rata-rata penyakit gizi pada anak jenisnya marasmus atau kurus kering, kebanyakan pasien balita gizi buruk ini masuk dengan penyakit penyerta seperti diare, DBD, radang paru-paru,” kata dr.Mervin Tri Hadianto, M.Si, Med, SpA, dokter Specialis anak di RSUD Kefamenanu.
Namun, anehnya sejumlah orang tua pasien mengaku tidak tau status gizi pada anak mereka, status gizi buruk pada anak malah diketahui saat masuk rumah sakit dengan jenis penyakit lain seperti diare, hal ini dialami oleh keluarga primus lake dan istrinya asal Desa Nilulat Kecamatan Kabupaten Timor Tengah Utara.
“Waktu masuk rumah sakit memang ada sakit diare, tapi setelah dokter periksa ternyata juga gizi buruk, memang waktu masuk berat badan hanya 5 kilogram saja padahal ini anak sudah umur 1 tahun 4 bulan.” Kata Primus Lake, ayah balita gizi buruk.
Penyebab lain gizi buruk pada anak adalah pola makan tidak sehat lantaran himpitan ekonomi, kondisi ini biasanya rentan terjadi pada garis grafik kemiskinan yang cukup tinggi dan daerah pinggiran atau pedalaman yang tidak terjangkau oleh sosialisasi hidup sehat pada masyarakat setempat.(Sebe)


















