berita2.com (Kupang, NTT): Ketua Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB), Ferdi Tanoni mengusulkan kepada pemerintah Australia agar menjadi wilayah Timor Barat (NTT) sebagai pusat distribusi sapi Australia.
Usulan YPTB ini menyikapi adanya pro dan kontra terkait larangan Pemerintah Australia atas desakan asosiasi peternak sapi Australia untuk menghentikan ekspor sapi dari Australia ke Indonesia, buntut praktek beberapa rumah potong hewan di Indonesia yang melakukan penganiayaan berat terhadap sapi Australia sebelum disembelih.
Dan usulan YPTB ini tak hanya mengungkap opini, namun YPTB akan menyurati Pemerintah Federal Australia serta meminta dukungan Pemerintah Indonesia maupun Asosiasi Peternak Sapi di Australia untuk menjadikan Timor Barat sebagai pusat distribusi sapi dan daging asal Australia bagi kebutuhan Indonesia.
“Untuk menetralisir berbagai polemik yang ada, baik di Indonesia maupun di Australia, saya berinisiatif mengirim surat kepada Perdana Menteri Australia Julia Gillard dengan tembusan kepada Presiden RI, Gubernur NTT, kepala pemerintahan negara bagian Australia Utara dan Australia Barat serta Asosiasi Peternak Sapi Australia untuk menjadikan Timor Barat sebagai pusat distibusi sapi dan daging asal Australia,” jelas Ferdi Tanoni kepada wartawan di di Kupang, Kamis (7/7) .
Ferdi mengatakan, usulannya tak hanya sekadar usulan, namun dibalik semua itu ada sejumlah alasan mengapa Timor Barat (NTT) layak dijadikan sebagai pusat distribusi sapi dan daging asal Australia. Alasan tersebut, kata Ferdi, antara lain masyarakat Timor Barat sejak turun temurun menjadikan sapi dan kerbau sebagai bagian dari kehidupan adat istiadat mereka sehari hari.
"Selain itu secara geografis Timor Barat adalah wilayah terdekat dengan Australia Utara dan Barat, dimana sebagian besar sapi yang didatangkan dari Australia berasal dari dua negara bagian Australia yang jelas memiliki iklim yang hampir sama dengan iklim di Timor Barat," papar Ferdi Tanoni.
Dia mengatakan, sebenarnya sejarah mencatat bahwa hubungan ternak peliharaan sapi dan kerbau antara Timor Barat dan Australia sudah terjalin sangat lama sekali, dan Pemerintah Australia Utara mengakui bila kerbau yang ada di Australia Utara itu asalnya didatangkan dari Timor Barat yang dulu dikenal dengan sebutan banteng Timor.
Sosok yang juga dikenal sebagai Ketua Bersama Forum Pengusaha NTT-Timor Timur dan Australia Utara ini mengatakan, sudah sepantasnya Pemerintah Indonesia dan Australia tidak segan-segan untuk mendukung gagasannya ini, karena selain kebutuhan daging dalam negeri sangat besar, Indonesia juga masih membutuhkan pasokan sapi dan daging asal Australia.
"Bila hal ini terwujud maka masyarakat Timor Barat sangat mampu kembalikan Timor Barat gudang ternak untuk Indonesia sebagaimana dahulu kala bahkan bisa untuk ekspor ke negara lain," kata Ferdi.
Ferdi mengakui, sebelum menyurati PM Australia, dirinya telah melakukan pertemuan dengan beberapa pengusaha besar importir sapi dari Ausralia untuk meminta tanggapan mengenai gagasannya itu.
Ternyata, lanjut Ferdi, dia mendapat respon yang sangat positif, bahkan para pengusaha ini bersedia untuk membangun Rumah Potong Hewan di Timor Barat.
"Bukan hanya itu saja, mereka juga siap untuk melakukan investasi di bidang pertenakan diantaranya penggemukan sapid dan lain sebagainya dengan menjadikan masyarakat Timor Barat sebagai mitra kerjanya," katanya.
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya


















