berita2.com (Mataram, NTB): Sebagian masyarakat Pulau Lombok, NTB, mulai beralih ke biogas rumah berbahan kotoran hewan ternak dalam rangka memenuhi kebutuhan bahan bakar mereka sehari-hari. Besarnya populasi ternak khususnya sapi membuat bahan bakar alternatif ini menjadi pilihan.
“Kita sudah membangun sedikitnya 81 reaktor biogas yang tersebar di empat kabupaten/kota se- Pulau Lombok dalam kurun Agustus 2010 hingga Februari 2011. Target kita pada tahun 2012 sudah berfungsi 500 reaktor,” ungkap M Ali Ikhsan, Biogas Promotor Officer pada Indonesia Domestic Biogas Programme, kepada wartawan saat menggelar sosialisasi biogas di Desa Nyurlembang, Kecamatan Narmada, Lombok Barat, Selasa (15/03).
Biogas Rumah (BIRU) adalah program kerjasama Pemerintah Belanda melalui lembaga HIVOS dengan Kementrian Energi dan Sumberdaya Mineral RI. Gas dihasilkan dari kotoran hewan ternak yang dimasukkan dalam sebuah tabung reaktor. Pemerintah memberikan subsidi sebesar 2 juta rupiah dari total 5,5 juta rupiah harga satu reaktor.
Dibutuhkan sekitar 700-800 kilogram kotoran ternak untuk pengisian perdana reaktor yang berukuran 4 kubik. Setelah itu, kebutuhan kotoran hanya 30 kilogram per hari. Warga juga bisa memiliki reaktor ukuran besar secara patungan untuk kebutuhan 4 sampai 5 Kepala Keluarga (KK).
“ Dipilhnya NTB karena sebagian besar masyarakatnya adalah peternak. Masyarakat juga cepat beralih karena alasan keamanan. Reaktor ini tidak bisa meledak,” ungkap Ikhsan.
Program Biogas berbahan kotoran ternak ini mendapat sambutan bagus dari masyarakat. Suriatni (50), ibu rumah tangga asal desa Nyurlembang, Narmada Lombok Barat, mengaku bisa menghabiskan 10 liter minyak tanah (Mitan) per minggu untuk memenuhi kebutuhan dapurnya dalam kondisi normal.
“Sekarang lebih bisa berhemat, cukup mengumpulkan kotoran sapi milik tetangga,” ungkapnya.(RAI)