berita2.com (Mataram, NTB): Hampir semua kapal penyeberangan pelabuhan Padang Bai-Lembar tidak memiliki sistem keselamatan dan keamanan untuk kecelakaan besar terutama kapal-kapal yang mengangkut gas elpiji dari Bali ke Lombok. Pihak Administrator Pelabuhan (ADPEL) Lembar juga masih baru memikirkan adanya zona khusus untuk bongkar muat gas.
“Kami juga memikirkan jaminan keselamatan kami selama membawa barang-barang yang cepat meledak itu,” ungkap Kapten Iwan Sunaji, nakhoda KMP Suramadu Nusantara, saat berlangsung sosialisasi keselamatan pelayaran di Pelabuhan Lembar, Senin 28 Februari 2011.
Pihak Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Cabang Lembar mengoperasikan 20 kapal dan 24 trip untuk tujuan dari dan ke pelabuhan Lembar dalam suasana normal. Satu hingga dua kali seminggu, satu buah kapal tercatat mengangkut kebutuhan gas elpiji pulau Lombok dari Bali dengan volume 12 hingga 13 truk elpiji per satu kapalnya.
Dari total kapal yang dioperasikan, semua kapal rata-rata hanya memiliki sistem keamanan untuk kecelakaan-kecelakaan kecil seperti kebakaran ringan, gangguan mesin dan lain-lain.
Kepala Cabang ASDP Lembar, Kaimuddin Maliling, juga menyatakan hal yang sama. Adanya sistem keamanan khusus untuk jenis kecelakaan besar memang harus difikirkan sejak awal sebelum kecelakaan terjadi.
Dalam Undang Undang, nakhoda sebenarnya diberikan keleluasaan untuk menolak muatan yang membahayakan pelayaran kecuali ada alat pengaman yang memadai.
“Memang ini dilema. Jika mereka nggak ngangkut, kebutuhan elpiji , solar dan lain-lain untuk Lombok akan tersendat,” ungkap Maliling ditempat yang sama.
Kepala kantor Administrator Pelabuhan (ADPEL) Lembar, I Gede Wira Wijaya, mengatakan pihaknya masih baru memikirkan tentang perlunya zona khusus untuk proses bongkar muat barang barang zat gas di pelabuhan Lembar. “Saat ini belum. Tapi kita sudah memikirkannya,” ungkap Gede. (rai)