berita2.com (Selong, Lombok Timur): Kontraktor yang dituding pembohong oleh Bupati Lombok Timur diduga masuk dalam proses pemenagan tender atas jasa orang terdekat bupati, dan di luar mekanisme yang sudah sering terjadi, sehingga wajar kalau hasil pekejaan rekanan tersebut sangat buruk dan membuat orang nomor satu digumi Selong ini, kebakaran jenggot.
“Bagaimana tiidak bermasalah. Wong masuknya saja lewat orang dekatnya bupati, setelah lewat ini tidak bisa, ya. Ia lewat orang bisa mengegolkan proyek itu,” ujar Ketua Gapensi Lotim H.Hikmat Dikantornya Sabtu 22 Januari 2011 Ia juga menilai proses tender dikabupaten Lombok Timur hanya aktivitas formaslistik saja, Karen barang dan orang yang akan mengeksekusi proyek tersebut sudah dikantong.
“Kalau ada proses pengumuman, anwizing itu hanya formalitas saja,” bebernya. Ia juga menyangsikan kemarahan bupati yang blow-up oleh beberapa media, kesangsian Hikmat ini, dikarenakan para kontraktor yang diangap bermasalah tersebut, masuk melalui orang dekat bupati.
Mestinya orang –orang sekeliling tersebut harus dievaluasi. “Mereka masukkan melalui keluarganya bupati,” Kata Hikmat.
Pada kesempatan itu juga, ia membeberkan terkait banyaknya kontraktor non lisensi yang ikut mengerjakan proyek, sehingga wajar kalau hasilnya tidak memuaskan. “Kita memang sayangkan, banyak yang bukan kontraktor ikut mengerjakan proyek, hanya bermodal pinjaman bedera,” bebernya.
Tekanan untuk meloloskan kontraktor tersebut, justru datangdari luar Kabinet Bupati, walauapun orang tersebut tidak berkuasa alias pensin, namun cukup diperhitungkan. “Yang pensiun saja masih berkiliaran mengatas namakan bupati dan wakil bupati,” katanya seraya mengatakan dirinya tidak takut membeberkan hal yang lebih besar lagi.
Para kontraktor yang yang tidak memiliki jaringan komunikasi (Jarkon) dengan orang-orang terdekat bupati siap-siap mengecangkan ikat pinggang,kendati tidak selama hari-hari buruk, kalau ada hari-hari keberuntungan itupun proyek hasil lemparan yang kontraktor lain sudah tidak suka.
“Para kontraktor lokal tidak pernah mendapatkan diatas Rp.3 milyar, pasti di bawahnya saja, yang mengusai pasti para kontraktor luar daerah padahal mereka juga minjam bendera,” jelasnya, seraya mengatakan bahwa dirinya pernah mengkroscek alamat kantor yang dikatakan sangat munafit, padahal mereka masih mengontrak.
Terhadap romor bahwa para kontraktor tidak memiliki modal kerja, Hikmat pun menepisnya. “Kita siap kerjakan berapapaun nilainya, tapi bagaiman kita bisa tahu kalau orang itu bermodal atau tdak padahal tidak pernah dikasih. Kita ini ibarat pohon bonsai, setelah besar pasti dipangkas,” Ujarnya.(WAN)