berita2.cim (Mataram): Gelombang tinggi disertai angin membuat ratusan nelayan di Lombok Barat harus beralih profesi menjadi pemulung sampah plastik di kawasan pantai untuk memenuhi kebutuhan hidup.
“Seminggu lebih kami tidak melaut. Sebagai gantinya kami mengumpulkan botol-botol plastik ini untuk dijual. Lumayan buat makan,” ungkap Sahar (50), warga Dusun Taman Jeranjang, Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung, Lombok Barat, yang ditemui sekitar pukul 07.00 Wita Senin 27 Desember 2010.
Bersama puluhan rekannya, Sahar menyusuri kawasan Pantai Endok menggunakan karung bekas, mengumpulkan sampah plastik sisa para pengunjung pantai. Sampah itu lalu dijual seharga 2 ribu rupiah per karungnya. Sahar memperkirakan kondisi cuaca akan berlangsung hingga sekitar tiga bulan mendatang.
“Banyak juga teman-teman jadi kuli bangunan untuk sementara. Pokoknya kerja macam-macam,” ungkap Rusman (45), teman Sahar.
Hal yang sama juga dialami puluhan nelayan Pantai Cemara, Puyahan, Kecamatan Lembar. Jika pada waktu cuaca normal, mereka bisa mendapatkan 200 ribu hingga 1 juta rupiah dari usaha menangkap ikan menggunakan kapal bermotor sederhana. Kondisi cuaca yang tidak menentu sejak sekitar dua minggu lalu membuat mereka harus mengatur jadwal melaut.
“Kami harus lihat cuaca dulu. Kalau bagus ya melaut. Kalau nggak bagus ya nganggur,” kata Sahnil, nelayan setempat.
Sementara itu, gelombang tinggi tidak mengganggu pelayaran kapal dari dan menuju pelabuhan penyeberangan Lembar, Lombok Barat.
“Tinggi gelombang baru mencapai 1-2 meter. Meski begitu kami tetap waspadai perubahannya,” ungkap Manager Operasional PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan, Lunggu S, ketika dihubungi.
Arus penyeberangan masih normal dengan 19 kapal dan 22 trip. Pihak ASDP memberangkatkan kapal dengan mengacu pada informasi pihak nakhoda, BMG, dan informasi-informasi resmi lainnya.(RAI)