berita2.com (Mataram): Untuk mencegah agar para mantan Tenaga Kerja Wanita (TKW) tidak kembali bekerja ke Timur Tengah, Sebuah pondok pesantren di Lombok Barat bersama Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (BKBPP) setempat, menggelar pelatihan dan pembinaan kepada puluhan mantan TKW korban kekerasan. Setelah mengikuti pelatihan, mereka juga akan diberikan modal usaha untuk dikembangkan.
Pondok Pesantren Darunnadwah Desa Dasan Ketujur, Kecamatan Gerung, Lombok Barat, NTB, menggelar pelatihan dan pembinaan selama 3 hari kepada 15 mantan TKW yang mengalami tindak kekerasan selama bekerja di Timur Tengah, Rabu (24/11/2010). Para perempuan ini diberikan sejumlah materi utamanya menyangkut peluang usaha yang mungkin bisa mereka garap selama memutuskan tidak lagi kembali sebagai TKW ke luar negeri.
“ Pelatihan ini kita laksanakan secara berkala dan terus menerus. Setelah diberikan pelatihan kita akan berikan modal usaha,” ungkap Kepala BKBPP Lombok Barat, Baiq Eva Nurcahyaningsih.
Semua peserta yang hadir mengaku mengalami tindak kekerasan yang beragam. Tanti Binti Mahyun (29), misalnya, hadir dengan luka dibagian kaki sebelah kanannya. Ia terjatuh dari lantai saat bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT) di Saudi Arabia. Dalam catatan harian yang diserahkannya ke wartawan, Tanti mengaku seringkali disiksa secara fisik oleh majikannya. Ia kembali ke tanah air pada akhir November kemarin.
Pemerintah Provinsi NTB menghentikan sementara proses pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Negara Arab Saudi menyusul munculnya kasus kekerasan yang menimpa TKW asal Dompu, NTB, Sumiati, beberapa waktu lalu.
“ Tujuan kita supaya mereka tidak balik lagi sebagai TKW,” ungkap Eva.(RAI)