Jayapura, (berita2.com) : Penanganan HIV-AIDS menjadi prioritas pelayanan World Vision Indonesia (WVI) di Papua hingga tahun 2011/2012, kata Koordinator Program Kesehatan World Vision Indonesia (WVI), dr.Ronald Gunawan di Jayapura, Sabtu (7/11).
"Penyebaran HIV-AIDS di Papua sudah mencapai tahap `generalized epidemic` atau terkategori sangat rawan karena tidak lagi hanya menyebar di kalangan risiko tinggi, tapi sudah menyebar juga di kelompok-kelompok lainnya," katanya.
Oleh sebab itu, WVI sangat mendukung terobosan yang dilakukan pemerintah maupun organisasi-organisasi lain untuk mencegah penularan HIV.
Salah satunya adalah merintis materi tentang HIV-AIDS untuk dimasukkan ke dalam kurikulum pelajaran sekolah. Diharapkan langkah strategis ini akan menyebarkan pemahaman tentang penyakit tersebut secara cepat dan luas.
Dikatakan dr.Ronald, semua area development program (ADP) yang ada di Papua secara bersungguh-sungguh mengadopsi program advokasi pencegahan HIV dan AIDS dengan pendekatan `community-based.`
"Pola pendekatan ini sangat efektif untuk meredam penyebaran HIV karena merangkul seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama mencegah dan menanggulangi penyakit ini," katanya.
Lebih lanjut dikatakannya, WVI memiliki "kelebihan" dibanding pihak-pihak lainnya dalam membantu pencegahan penularan HIV karena pelayanannya menjangkau daerah-daerah pedalaman yang sangat sulit dijangkau.
Wilayah pedalaman merupakan daerah yang paling rawan penularan dan penyebaran HIV-AIDS.
"Informasi tentang bahaya HIV dan seluk beluk penularannya masih sulit menjangkau masyarakat yang tinggal di pedalaman karena kesenjangan geografi dan bahasa," kata dr.Ronald.
Dia menekankan, HIV sangat terkait dengan kemiskinan, pendidikan dan kualitas layanan kesehatan. Di dalam masyarakat yang terdidik dan mendapat cukup informasi tentang pencegahan dan penularannya, penyakit ini bisa diredam.
Oleh sebab itu, pemerintah dan seluruh pihak yang berkompeten harus secepatnya meningkatkan kualitas dan jangkauan pendidikan secara luas bagi masyarakat, terutama mereka yang mendiami daerah pedalaman.
Selanjutnya, dokter dan para pekerja kesehatan juga perlu secepatnya direkrut dan ditempatkan di berbagai daerah di Papua agar informasi dan pelayanan kesehatan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Jika ditinjau dari sisi etnisitas, prosentase penularan pada penduduk asli mencapai 2,8 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan masyarakat pendatang sebesar 1,5 persen.
Sementara itu, tingkat prosentase penularan tertinggi terjadi di daerah-daerah pesisir dan pedalaman yang masih sulit terjangkau pelayanan kesehatan, yakni sebesar 3,2 persen.
Sejak akhir 1990-an, Kabupaten Merauke, Papua mulai dikenal sebagai wilayah dengan rasio pengidap HIV positif tertinggi di Indonesia jika dilihat dari jumlah populasinya.(*un)


















