berita2.com (Pulang Pisau): Bantuan bibit pertanian dari Pemerintah kabupaten yang disalurkan ke kelompok tani di Pulang Pisau setiap tahun di nilai BPP (Balai Penyuluh Pertanian) kecamatan Pandih Batu mubazir. Hal ini disebabkan oleh lambannya penyaluran yang mengakibatkan tidak tepat saat musim tanam tiba.
Hal tersebut terungkap atas hasil investigasi wartawan media ini ke wilayah Pandih Batu Sabtu (20/11/2010). Arianti mengatakan bahwa hendaknya pemerintah meng-evaluasi kembali teknik penyaluran bibit pertanian kepada masyarakat agar tepat disaat musim tanam tiba.
“Kalau Oktober dipastikan masyarakat telah memasuki musim tanam musthinya ya bibit telah tiba sebelumnya, nah ini malah sebaliknya disaat petani mempersiapkan lahan pertanian justru bantuan bibit belum datang akibatnya petani mencari bibit sendiri yang hingga musim tanam selesai baru penyaluran bibit diserahkan,” ungkapnya seraya menjelaskan bahwa penyaluran bibit telah memasuki masa kedaluarsa yang mutunya tidak dapat diharapkan.
Kepada media ini Arianti mengharapkan agar pemerintah memikirkan kegiatan masyarakat petani disuatu wilayah sehingga apabila ingin memberikan sarana pembibitan tidak sia-sia. Bahkan katanya bibit yang diserahkan ke kelompok tani tidak bisa dimanfaatkan masyarakat hingga berakhir menjadi pakan ayam peliharaan masyarakat.
Hal serupa juga terjadi dibeberapa desa di kecamatan Pandih Batu, bantuan yang diberikan pemerintah setempat melalui dinas pertanian ke sejumlah kelompok tani sungguh tidak menuai manfaat apapun, malah setidaknya bantuan seperti kedelai tidak layak dikonsumsi masyarakat, bagaimana tidak sebab jenis bibit yang disalurkan telah rusak dan tidak bisa dimakan manusia,” Jangankan ditanam pak, dimakan saja tidak bisa bahkan dikasihkan ayam saja tidak mau,” ungkap salah seorang kepala desa yang prihatin dengan setiap bantuan yang diberikan kepada masyarakat tidak dibarengi dengan perhitungan waktu.
Secara rinci penyaluran diserahkan oleh pengusaha pertanian atas hasil lelang dimana prosesnya mayarakat sendiri tidak ikut campur hanya saja masyarakat menghendaki agar kedepan pemerintah kembali memikirkan teknik penyaluran bibit pertanian ke kelompok tani agar benar-benar bermanfaat bagi petani.
Harapan bagi petani dalam kesempatan tersebut hanya secercah harapan agar perhatian pemerintah bukan saja masalah waktu penyaluran namun juga harus dibarengi dengan penelitihan terkait dengan lokasi tanam, waktu tanam, area tanam jenis bibit yang cocok dan luasan lahan hendaknya diperhatikan terlebih dahulu agar konsep petani sejahtera dapat terwujud disamping pemerintah harus juga memperhatikan konsep pemasaran dalam hal ini insprastruktur jalan yang akan dimanfaatkan petani untuk proses tersebut. (ratman)