Muara Teweh, (berita2.com): - Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Pusat membangun alat deteksi gempa bumi dan tsunami atau Tsunami Early Warning System (TEWS) di Muara Teweh Kabupaten Barito Utara (Barut) Kalimantan Tengah.
"Alat ini berfungsi untuk membantu BMG dalam memantau gempa dan tsunami yang terjadi di wilayah pulau Kalimantan atau di laut," kata Kepala Stasiun Meteorologi Beringin Muara Teweh, Sukawardie, di Muara Teweh, Jumat.
Sarana dan prasarana alat pemantau gempa dan tsunami untuk wilayah utara Kalteng yang dibangun dengan desain khusus di kawasan kantor Stasiun Meteorologi Muara Teweh itu akan mulai difungsikan sejak awal tahun 2010.
"Alat ini hanya bersifat sensor yang secara otomatis memberikan informasi kalau terjadi gempa kepada BMG Pusat," katanya didampingi Kepala Kelompok tenaga Teknis, Sunardi.
Menurutnya, alat serupa sudah ada di Palangka Raya, Kalteng, untuk pemantauan wilayah selatan dan Pangkalan Bun di bagian barat yang merupakan program BMG pusat untuk memudahkan deteksi di daerah yang dilalui jalur gempa dan tsunami, seperti di Laut Sulawesi atau Selat Makassar.
"Jadi semakin banyak dibangun alat deteksi ini dapat memudahkan memantau gempa yang efeknya bisa terasa di tempat kita," jelasnya.
Dijelaskan Sukawardie, meski pulau Kalimantan secara umum diketahui selama ini dikenal aman dari gempa dan tsunami, namun fakta mencatat sejarah yang merupakan kejadian langka telah terjadi di Kalteng khususnya Muara Teweh.
Kejadian gempa bumi di Kalteng terjadi di Muara Teweh yang terekam pada Pusat Gempa Regional BMG Wilayah III Denpasar, Bali pernah dialami pada tanggal 5 Juli 1996 lalu sekitar 22:04 WIB atau 23:04 WITA di kawasan PIR Butong Kecamatan Teweh Tengah.
Gempa Tektonik dengan kekuatan 5,5 Skala Richter ini berada di pusat gempa 01,14 LS dan 114,85 BT dengan kedalaman 33 kilometer (normal) dan intensitas gempa III MMI (Modified Mercalli Intensity).
Gempa yang disebabkan aktifitas sesar/patahan setempat (lokal) yang diikuti gempa susulan berlangsung lebih dari satu bulan dan kekuatan maupun frekwensinya makin turun.
"Kejadian langka ini dirasakan hampir semua penduduk di Muara Teweh dan sekitarnya, bahkan dilaporkan ada beberapa bangunan yang mengalami retak-retak," kata Sukawardie.
Dalam rekaman BMG Wilayah III Denpasar itu juga tercatat peristiwa lainnya yang dirasakan masyarakat Muara Teweh terjadi gempa 70 KM arah barat kota Balikpapan, Kalimantan Timur yang terjadi pada 3 Juli 1998 lalu sekitar pukul 07:36 WIB.
Pada saat itu kekuatan gempa 5.0 Skala Richter dengan kedalaman 33 KM pada 114 LS dan 116,28 BT dan getaran gempa terasa III MMI.
Dari sejarah gempa bumi di Indonesia yang terjadi Kalimantan selain di Muara Teweh dan wilayah Balikpapan (Laut Sulawesi, tercatat tiga kali berturut-turut peristiwa bencana gempa bumi di Tarakan, Kaltim yakni pada 19 April 1923, 13 April 1924 dan 14 Pebruari 1925 dengan kekuatan mencapai VIII skala MMI.(*ek)


















