Banjarmasin, (berita2.com): Pakaian dalam wanita menjadi tempat potensial untuk menyimpan narkoba (narkotika dan obat-obat berbahaya) agar lepas dari pengawasan dan razia anggota kepolisian dan aparat pemberantasan narkoba lainnya.
Hal itu disampaikan Victor Mujadi dari Badan Narkotika Nasional (BNN) saat menjadi pembicara dalam sosialisasi narkoba melalui pengembangan seni dan budaya di Aula Abdi Persada Pemprov Kalsel, Selasa.
Di hadapan pelajar Tsanawiyah (setingkat SMP) Banjarmasin, Victor mengatakan, banyak kasus narkoba yang terungkap baik pada tingkat nasional maupun daerah, disembunyikan di pakaian dalam wanita.
Dengan demikian, kata dia, bila petugas tidak teliti akan banyak narkoba lolos dan beredar di pasaran, sehingga mengancam generasi muda yang merupakan sasaran empuk dari peredaran obat-obatan yang merusak mental tersebut.
"Biasanya narkoba tersebut disembunyikan dengan cukup rapi di dalam pakaian dalam tersebut, sehingga bila tidak jeli tidak akan terdeteksi," katanya.
Dengan gaya dan bahasa yang kocak, Victor mampu "mebius" ratusan pelajar yang dengan antusias mengikuti setiap detail penjelasan tentang narkoba.
Dalam setiap tahap materi bahasan, Viktor selalu melibatkan para pelajar untuk aktif mengikuti peragaan yang ditampilkan untuk mendukung materi sosialisasi.
Peragaan tersebut di antaranya, meniup balon yang merupakan salah satu alat untuk menyimpan narkoba hingga ke acara perlombaan yel-yel terbaik tentang antinarkoba.
Selain pakaian dalam, kata dia, tempat potensial untuk peredaran dan transaksi narkoba adalah diskotik, tempat parkir, kamar kecil atau toilet, kantin sekolah, bandara dan pelabuhan.
Sedangkan kasus narkoba kini juga semakin meluas tidak lagi dibatasi oleh umur dan juga tidak hanya dipengaruhi oleh faktor keluarga maupun sekolah tetapi juga lingkungan yang kurang baik.
"Banyak anak-anak usia tujuh tahun, madrasah tsanawiyah dan pesantren maupun anak dari keluarga baik dan harmonis juga terlibat narkoba," katanya.
Dengan demikian, kata dia, sejak dini anak-anak harus diberikan pendidikan tentang narkoba dan bagaimana bahayanya, sehingga bisa menghindar bila sewaktu-waktu menemukan kasus narkoba di lingkungannya.
"Narkoba hanya boleh dikonsumsi untuk pengobatan bagi orang yang sedang gangguan jiwa atau gila, maka bila yang sehat mengonsumsi akan menjadi?..." tanya Victor yang secara serentak dijawab para peserta dengan kata-kata "gila".
Kepala Departemen Agama Kalsel Fakhmi Arif mengatakan, sering mendengar laporan tentang kasus narkoba yang mulai masuk ke pesantren dan sekolah tsanawiyah.
"Ini masalah serius yang harus mendapatkan perhatian dari semua pihak, kita akan terus melakukan pantauan dan sosialisasi," katanya.
Sosialisasi tersebut kata dia, diantaranya dengan mengadakan pertemuan dan mendatangkan petugas BNN.
Selain itu kata dia, pencegahan peredaran narkoba juga dilakukan melalui pentas seni baik musik, menari dan lainnya.
Pada kesempatan tersebut, beberapa pelajar yang berani maju ke panggung untuk mengikuti peragaan ataupun kegiatan sosialisasi narkoba mendapatkan Rp50 ribu dari Victor.(*ek)


















