Palangkaraya, (berita2.com): Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, kini kembali diselimuti kabut asap setelah selama dua pekan terakhir bebas asap seiring datangnya awal musim hujan.
Pantauan ANTARA di Palangkaraya, Rabu, kabut asap tipis tersebut mulai muncul saat pagi hari meski kepekatannya terus menipis menjelang siang ini dan belum sampai mengganggu jarak pandang kendaraan bermotor.
Kabut asap itu muncul meski Kota Palangkaraya dan sekitarnya terus diguyur hujan dengan intensitas sedang, dan sejumlah lokasi kebakaran baru masih terus bermunculan di akhir musim kemarau ini.
Kendati diselimuti kabut asap, sebagian besar pengendara masih enggan mengenakan masker pelindung pernafasan mengingat kualitas udara berdasarkan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) masih dikategorikan "sehat".
Sementara itu, aktivitas penerbangan juga dilaporkan mulai terganggu akibat kabut asap dengan ditundanya sejumlah penerbangan reguler pada pagi hari karena landasan pacu sempat tertutup asap tipis.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Kalteng Mega Harianto, mengatakan, kabut asap yang menyelimuti ibu kota Kalimantan Tengah itu diduga merupakan kiriman dari kebakaran di provinsi tetangga.
"Kabut asap ini kemungkinan berasal dari kebakaran lahan di wilayah Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, bila dilihat dari arah angin yang terjadi," kata Mega.
Mega mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan petugas di Kalsel untuk mengecek dan memadamkan lokasi kebakaran yang asapnya diduga melintas hingga ke Kalimantan Tengah itu.
Meski demikian, Mega juga mengakui, berdasarkan pemantauan satelit NOAA jumlah titik panas (hotspot) di wilayah Kalteng cenderung mengalami peningkatan menjelang awal musim hujan.
Data citra satelit NOAA pada Minggu (18/10) menunjukkan munculnya 49 titik panas yang kemudian turun menjadi 19 titik panas pada Senin (19/10), padahal pada pertengahan Oktober lalu sempat menghilang alias nihil titik panas.
Mega menilai, fluktuasi titik panas terjadi karena Kalimantan Tengah belum sepenuhnya memasuki musim hujan sehingga potensi kebakaran lahan masih cukup tinggi dan harus tetap diwaspadai.(*ek)