berita2.com (Cirebon): Dua kampung Kesunean dan Kampung Cangkol, Minggu (10/10), kembali pecah. Tawuran dua kampung ini terjadi sekitar pukul 23.00 Wib. Belum diketahui korban aksi brutal dua kampung yang melibatkan ratusan warga ini. Namun beberapa rumah warga dari dua kampung ini terlihat rusak parah akibat terkena lemparan batu warga.
Peristiwa tawuran dua kampung tersebut belum diketahui persis pemicu yang sebenarnya. Namun dari beberapa pendapat dilapangan menyebutkan tawuran kali ini merupakan bentuk balas dendam pada peristiwa sebelumnya, sebab sudah terjadi berulang kali dan hanya gara-gara persoalan sepele. Pihak aparat kepolisian maupun para tokoh dari kedua kampung ini pun sebenarnya sudah saling mengingatkan, bahkan jembatan penghubung yang memiliki panjang 4 m tersebut pernah menjadi saksi perdamaian keduanya.
Namun lagi-lagi kedua kampung Kesunenan dan Cangkol kembali terlibat tawuran. Entah apa yang menjadi ke egoan dari kedua kampung itu, warga yang tak tahu menahu kembali menjadi korban, rumah-rumah mereka rusak akibat lemparan batu-batu besar.
Seperti tadi malam, suasana begitu mencekam, histeris jeritan warga begitu mempekik ketika ada suara “serang” yang dibarengi dengan lemparan batu-batauan ke rumah warga. Mereka yang sudah terlelap tidur mendadak bangun dan bingung bahkan ada juga yang keluar membantu rekan-rekannya dan kemudian larut dalam aksi tawuran tersebut.
Rochman (34), warga Kesunenan, Kota Cirebon, tak habis pikir. Aksi tawuran yang kerap terjadi di kampungnya membuat keluarganya tak bisa tenang. Ada rasa dilema yang menyelimuti perasannya akibat rasa keegoan daerah (kampung-red) yang mendera dan mendorong untuk ikut andil dalam aksi tawuran ini. Namun disisi lain, Ia ingat akan keselamatan keluarganya. Ma’lum rumahnya persis berada dekat perbatasan dengan kampung Cangkol.
“saya dilema mas, mau ikutan kasihan sama keluarga, tapi rumah saya juga menjadi korban lemparan batu. Saya tidak habis fikir, kenapa tawuran selalu kerap terjadi. Padahal antara warga Cangkol dan Kesunean sama-sama masih memiliki turunan keluarga, tapi tawuran tetap saja terjadi dan terkadang pemicunya adalah persoalan sepele,” ujarnya dilokasi kejadian.
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya