berita2.com (Cirebon): Mahasiswa dari BEM Fakultas Pertanian Unswagati Cirebon dan Ikatan Senat Mahasiswa Pertanian Indonesia (ISMPI), Jumat (24/9), memblokir jalan Pantura. Meski hanya sekitar 30 menit, namun aksi blokir Pantura sempat membuat lalulintas jalur Pantura tepatnya di perempatan Jln. Pemuda-By Pass macet selama beberapa saat. Aksi ini sendiri dipicu dalam rangka memperingati hari tani sedunia.
Usai pemblokiran, massa luruk ke gedung Bulog Subdivre Cirebon yang tak jauh dari perempatan Jln. Pemuda dan kampus Unswagati. Dalam aksi ini m,ahasiswa mempertunjukkan ketidakpuasannya atas kebijakan pemerintah di bidang pertanian yang tidak berpihak kepada para petani. Menurut koordinator aksi, Luki Supriatna, bahkan dalam APBN 2010 bidang pertanian merupakan penerima alokasi anggaran yang paling kecil.
Maka dalam aksinya mereka menuntut supaya pemerintah segera memberikan hak asasi kaum tani. Mau mereformasi agrarian juga menaikkan subsidi untuk rakyat. Selainnya, mahasiswa meminta jaminan harga hasil pertanian yang layak bagi petani dan menghentikan praktik-praktik kekerasan yang dilakukan negara terhadap petani dalam konflik agraria.
"Pemerintah juga harus mewujudkan regulasi lahan pertanian berdasarkan reformasi agraria, mengawasi distribusi benih dan pupuk bersubsidi, serta memberikan akses permodalan bagi pertani," kata Luki Supriatna, koordinator aksi.
Menurut Luki, pembaruan agraria merupakan tanggung jawab negara untuk mewujudkan kesejahteraan petani melalui kebijakan sosial seperti pemerataan lahan pertanian. Kesejahteraan petani dan keluarganya, katanya, merupakan prioritas utama dalam program pertanian. "Kebijakan di bidang pertanian harus menguntungan para petani bukan untuk kepentingan golongan tertentu," tegas Luki.
Sementara it, aksi massa pun dilanjutkan ke gedung Studio RRI yang berlokasi hanya beberapa ratus meter dari perempatan Jln. Pemuda. Massa sempat meminta agar pihak RRI menyiarkan secara langsung pernyataan sikap mereka. Namun setelah dijelaskan oleh salah seorang karyawan RRI soal prosedur penyiaran, massa akhirnya setuju hanya merekam pernyataan sikap dan akan disiarkan dalam berita RRI.
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya


















