berita2.com (Jombang): Warga Desa Mojowarno, Kecamatan Mojowarno, Jombang, meminta anggota DPRD setempat, Ahmad Tohari, melakukan sumpah pocong.
Ancaman warga itu terlontar karena politisi dari Partai Demokrat (PD) ini tidak mau mengakui ucapannya di sejumlah media massa. Yakni, Tohari menuding bahwasannya basecamp survey seismik di Desa Mojowarno kerap didatangi perempuan malam.
"Kami minta Pak Tohari jujur dan mau mengakui kesalahannya. Jika masih bersilat lidah, kami meminta Pak Tohari disumpah pocong saja. Dengan begitu akan jelas siapa yang benar dan siapa yang salah," kata Didik,tokoh pemuda desa setempat, Senin (14/6/2010).
Meruncingnya permasalahan Tohari dengan warga Mojowarno ini bermula ketika dewan mengundang PT. Saripari Geosains, perusahaan rekanan Exxon Mobil dalam survei seismik mencari ladang minyak baru di Blok Gunting, Mojokerto-Jombang-Kediri-Nganjuk, Rabu 19 Mei lalu.
Dalam forum tersebut, Tohari yang juga Ketua Komisi D mengatakan bahwa basecamp Saripari sering didatangi perempuan berkeliaran. Akibatnya, kawasan Mojowarno mirip dengan Hollywood.
Dia juga mengaku mendapat laporan dari warga terkait banyaknya perempuan malam itu. Tohari curiga, perempuan malam yang kerap kluyuran di depan gerbang basecamp pada malam hari merupakan perempuan penghibur, yang usernya adalah para petugas survei.
Esok harinya, lontaran Tohari itu muncul di media cetak dan media On Line. Nah, masyarakat yang mengetahui pemberitaan itu sontak geram karena merasa nama desanya di lecehkan, sehingga citranya semakin buruk. Apalagi politisi dari Partai Demokrat ini juga warga Mojowarno.
Selanjutnya, anggota dewan ini diundang ke balai desa setempat guna klarifikasi. Ironisnya, Tohari tak mengakui statemennya. Ia justru menuding wartawan telah memlintir berita. Praktis, forum klarifikasi itu berubah menjadi debat kusir alias tak menghasilkan apapun.
"Oleh karena itu warga mendesak Pak Tohari untuk mengakui kesalahannya. Jika masih berbelit lebih baik disumpah pocong saja," tambah Didik ketika dihubungi via ponselnya.
Sementara itu, Ahmad Tohari ketika dimintai komentarnya tentang tuntutan warga tersebut hanya banyak diam. “Saya tidak akan berkomentar dulu. Nanti suasananya malah keruh,” katanya singkat.


















