Berita2.com (Bantul): Seorang perempuan warga Rejosari, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang baru sebulan menikah, ditemukan tewas di rumahnya, Sabtu (8/5/2010). Diduga ia bunuh diri dengan cara memakan pupuk tanaman.
"Sumarni, 19, diduga bunuh diri dengan memakan pupuk tanaman sehingga menyebabkan keracunan," kata Kapolsek Piyungan Ajun Komisaris Sudarwan.
Meskipun Sumarni diduga bunuh diri dan tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan, kepolisian akan meminta keterangan suaminya, Pardi, terkait dengan kematian istrinya.
"Sampai saat ini suami korban belum kami mintai keterangan karena kondisinya masih syok. Bahkan beberapa kali pingsan setelah mengetahui istrinya meninggal karena bunuh diri," ujarnya.
Sudarwan mengatakan, Sumarni ditemukan sudah dalam kondisi meninggal oleh adik kandungnya sekitar pukul 07.00 WIB. Adiknya ketika itu merasa curiga karena kamar kakaknya tidak dibuka. Padahal hari mulai siang.
"Ketika mencoba melihat kakaknya dari jendela kamar, adiknya melihat Sumarni dalam kondisi tergeletak. Adiknya langsung memberitahukan kepada ayahnya, Wagino, dan kemudian pintu kamar dibuka paksa," kata Kapolsek.
Ia mengatakan, pihak keluarga sudah mencoba memberikan pertolongan dengan membawa Sumarni ke rumah sakit. Tetapi ia meninggal dalam perjalanan.
"Saat diperiksa di kamarnya, keluarga menemukan sisa pupuk yang biasa digunakan untuk tanaman, serta surat wasiat pamitan di sebuah buku," katanya.
Kapolsek Piyungan mengatakan diduga Sumarni sedang mengalami masalah dengan suaminya, Pardi.
"Ini terindikasi dari surat wasiat yang ditujukan kepada orang yang disayangi, serta SMS (layanan pesan singkat) yang sempat dikirimkan ke suaminya," katanya.
Dalam surat wasiat yang kini dijadikan barang bukti, Sumarni menulis pesan terakhir yang intinya permintaan maaf kepada suami, orangtuanya, serta menitip pesan untuk merawat neneknya.
"Dalam surat tersebut Sumarni menyebutkan dirinya tidak sanggup menghadapi cobaan, dan dirinya mohon pamit," katanya.
Sedangkan dalam SMS yang dikirimkan ke suaminya pada malam sebelum kejadian, Sumarni mempertanyakan mengapa suaminya tega tidak mengajak dirinya pulang ke rumah orangtua Sumarni. Jika memang seperti ini, lebih baik dirinya pergi saja.
"Informasi yang kami peroleh, pada malam sebelum kejadian Pardi usai pulang kerja, tidak beberapa lama kemudian pamit pergi ke rumah orangtua istrinya, tetapi tidak menyebutkan untuk keperluan apa, dan Pardi malam itu tidak pulang," katanya.