Jember (berita2.com): Kepala Perhutani Jember Taufik Setyadi menyatakan siap berdamai dengan Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan Sejahtera Jember. Namun, ia minta PKS minta maaf dan mengembalikan langsung uang Rp 600 juta yang sudah diberikannya.
Hal ini dikemukakan Setyadi melalui sambungan telpon kepada wartawan, Senin (19/4). Ia tidak sedang berada di Jember, dan berada di Jogjakarta terkait tugasnya sebagai administratur Perhutani.
Sebelumnya, Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan Sejahtera Jember menginginkan agar persoalan kisruh duit politik Rp 600 juta diselesaikan secara damai. PKS akan mengupayakan untuk melobi Kepala Kepolisian Resor Jember.
"Saya kan kemarin ngasih uang langsung. Harusnya kalau mereka memang kemarin tak bersedia merekom, mengembalikan duitnya kan ke saya langsung. Itu namanya gentle, ksatria, kemudian minta maaf ke saya," kata Setyadi.
Namun, yang dilakukan PKS, menurut Setyadi malah sebaliknya. Ia malah dipanggil dan uang itu justru dikembalikan kepada seseorang yang bernama Iwan. Sementara, Setyadi tak pernah merasa menerima uang itu.
"Jadi (seharusnya pengembalian yang) bukan lewat ini lewat itu, bukan kucing-kucingan. Ini kan namanya sudah tidak ksatria, tidak (beradat) ketimuran," katanya.
Setyadi tak berkomentar banyak soal rencana negosiasi PKS dengan Kapolres Jember. "Saya kira kapolres mengambil langkah-langkah terkait kepentingan umum, beliau pasti lebih bijaksana," katanya.
Setyadi hanya mengingatkan PKS agar tidak banyak membantah dan menutupi hal-hal yang tidak benar. "Tinggal enak-enakan piye? Nggak usah ini ngomong (duit) diterima Iwan. Jadi nggak usah berbuat yang tidak produktif," katanya.
Sepanjang pengurus PKS datang kepadanya baik-baik dan mengembalikan uang itu baik-baik disertai permintaan maaf, Setyadi siap berdamai. "Kalau datang baik-baik, minta maaf, mohon jangan dilanjutkan, kita kan mikir. Kita orang timur, orang islam," katanya.
Kisruh politik uang Rp 600 juta mencuat, setelah Kepala Perhutani Jember Taufik Setyadi didampingi pengacara Moch. Kholili mendatangi kantor polisi. Mereka melaporkan Ketua PKS Jember Mashuri Haryanto dan beberapa pengurus serta kader itu, dengan tuduhan penipuan.
Pelaporan ini dilakukan setelah PKS urung mengusung Taufik Setyadi sebagai calon bupati Jember. PKS justru mengusung pasangan Bagong Sutrisnadi-Moh. Mahmud bersama-sama 17 partai non parlemen dan Partai Demokrasi Pembaruan.
Padahal, menurut Setyadi, "Saya sudah menyerahkan uang sebesar Rp 600 juta dari komitmen sebesar Rp 1 miliar." Uang itu dibayarkan melalui Mashuri melalui beberapa termin, yakni Rp 200 juta, Rp 250 juta pada 8 April, Rp 50 juta tanggal 12 April. Terakhir tanggal 13 April jam 24.00 sebesar Rp 100 juta.
Dewan Pimpinan Daerah PKS Jember menyatakan, tak pernah meminta uang kepada Setyadi. Uang sebesar itu disebut PKS hanya titipan, dan sudah dikembalikan kepada yang punya. Namun Taufik menyatakan belum pernah menerima pengembalian uang itu. (beritajatim.com)


















