Bandung, (berita2.com): Sekitar 55 titik atau kawasan di 10 kabupaten di Jawa Barat rawan banjir bandang, sedangkan ratusan titik lainnya rawan gerakan tanah dengan intensitas menengah dan tinggi.
Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi , Senin, titik rawan banjir bandang tersebut sebagian besar di kawasan Jawa Barat bagian selatan.
"Hampir semua kawasan potensi gerakan tanah di Jabar saat ini berada pada level menengah dan tinggi, masyarakat diminta waspada terutama di kawasan yang potensi tinggi," kata Kasubid Gerakan Tanah PVMBG Badan Geologi Wawan Irawan.
Beberapa daerah yang memiliki potensi gerakan tanah dan banjir bandang tinggi antara lain Sukabumi, Bogor, Cianjur, Bandung, Garut, Subang, Tasikmalaya, Ciamis, Majalengka dan Kuningan.
Namun dari sepuluh daerah itu, Kabupaten Garut memiliki titik kawasan rawan banjir bandang yang paling banyak yakini 13 titik yakni di kawasan Kadungora, Leles, Wanaraja, Tarogong, Banyuresmi, Garut, Samarang, Cisompet, Bayongbong, Pamulihan dan Cikajang.
Bahkan saat ini, gerakan tanah di Garut saat ini telah memakan dua korban jiwa di kawasan Garut bagian selatan yang terjadi beberapa waktu lalu.
Daerah lainnya yang rawan banjir bandang adalah Cianjur yakni di kawasan Kecamatan Pacet, Cugenang, Sukaresmi dan Warungkondang. Tahun lalu banjir bandang di Cianjur memakan korban jiwa cukup besar di Pacet dan Cugenang.
"Sebagian besar kawasan rawan itu berada di alur sungai, gawir, tebing dan lereng yang ekstrim. Penyebabnya karena ada kerusakan vegetasi akibat alih fungsi dan tata lahan yang keliru," kata Wawan.
Kawasan rawan banjir bandang lainnya di delapan titik di Kabupaten Bogor antara lain di Citeureup, Nanjung, Leuwiliang, Cigudeg, Kedunghalang dan Jasinga.
Titik-titik rawan itu biasanya mempunyai riwayat kejadian banjir bandang, terutama sungai yang berhulu ke kawasan kawah gunung vulkanik.
PVMBG mengingatkan warga yang tinggal di kawasan alur sungai dan tebing untuk berhati-hati dan waspada saat musim penghujan.
"Bila ada retakan tanah di bagian atas tebing supaya lekas ditutup dengan tanah agar air tidak masuk ke dalamnya," katanya.
Selain ditentukan oleh curah hujan, potensi gerakan tanah juga bisa dipicu oleh gempa bumi. Menurut Wawan gempa bumi yang terjadi beberapa waktu lalu di Jabar dipastikan mengakibatkan retakan-retakan tanah di kawasan tebing.
PVMBG meminta agar masyarakat yang tinggal di kawasan tebing untuk mengontrol bagian atas tebing untuk memastikan tidak ada tanah yang retak.
"Gerakan tanah juga bisa terjadi di awal musim penghujan tergantung karakter tanahnya, yang jelas masyarakat harus waspada, terutama pada saat puncak musim penghujan," kata Wawan.
Meski terdapat beberapa titik rawan gerakan tanah dan banjir bandang, namun sejauh ini belum ada rekomendasi pengungsian untuk kawasan rawan longsor dan banjir bandang.
"Belum ada rekomendasi pengungsian, kecuali untuk warga di kawasan longsor di Cibinong Kabupaten Cianjur," kata Kasubid Gerakan Tanah PVMBG Badan Geologi itu menambahkan.
Sementara itu Ketua Satkorlak PBA Jawa Barat, H Dede Yusuf juga mengingatkan warga untuk waspada terhadap berbagai bencana alam pada musim penghujan terutama gerakan tanah dan banjir bandang.
Ia mengimbau, masyarakat untuk menjaga hutan lindung dan menjaga vegetasi di kawasan tempat tinggal masing-masing yang berfungsi untuk menjaga erosi dan banjir.
"Daerah sudah punya peta bencana, diharapkan hal itu menjadi perangkat antisipasi dini bencana alam pada musim penghujan," kata Dede Yusuf yang juga Wakil Gubernur Jabar.(*ek)


















