Yogyakarta, (berita2.com) : Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto mengatakan kerusuhan yang menghentikan pertandingan PSIM Yogyakarta melawan PSS Sleman di Stadion Mandala Krida, Jumat sore (12/2), adalah sebuah tragedi dalam persepakbolaan di daerah ini dan di Indonesia.
"Kejadian kemarin adalah sebuah tragedi, yang menurut pemahaman saya seharusnya tidak harus terjadi," katanya di Yogyakarta, Sabtu.
Menurut dia, kerusuhan tersebut dapat dianggap sebagai tragedi karena banyak pihak yang seharusnya tidak menjadi korban, tetapi justru menjadi korban, seperti anak-anak yang ikut ada di barisan penonton, juga ibu yang sedang berjualan di luar stadion, dan pemain senior PSIM serta wartawan.
"Banyak orang yang tidak melakukan perbuatan tercela justru menjadi korban. Anak-anak akan mengalami trauma atas apa yang sudah dialaminya. Hal ini benar-benar sebuah tragedi," kata Herry yang juga ikut menyaksikan pertandingan `derby` tersebut.
Setelah terjadi penembakan gas air mata yang dilakukan Brimob Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ke arah suporter PSIM, karena ada penonton yang melemparkan batu ke arah pemain PSS Sleman, kepanikan penonton pun terjadi sehingga menyebabkan banyak korban jatuh akibat terinjak atau sesak nafas karena menghirup gas.
Penonton yang tidak dapat keluar melalui pintu stadion karena hanya ada beberapa pintu yang terbuka, langsung lari ke lapangan sehingga pertandingan dihentikan pada menit ke-63 saat kedudukan imbang 1-1.
Herry berharap semua pihak seperti pemerintah, pemain, pihak penyelenggara maupun aparat keamanan, dapat menjadikan tragedi tersebut untuk mawas diri atas peran masing-masing.
"Jika ada yang memang melakukan kekhilafan dalam menjalankan perannya, semestinya secara sportif mengakuinya," katanya.
Menurut dia, sikap tersebut bertujuan untuk perbaikan mutu pertandingan sepak bola di Yogyakarta dan di Indonesia pada masa mendatang, sehingga tragedi serupa tidak terulang lagi.
Sebelumnya, Ketua DPRD Kota Yogyakarta Henry Koencoroyekti yang juga salah satu anggota Dewan Pembina PSIM mengatakan akan menindaklanjuti kasus tersebut, dan minta agar ada pengusutan atas penembakan gas air mata ke arah penonton.
"Kami akan melayangkan surat ke Poltabes Yogyakarta untuk mengusut kasus ini. Tindakan aparat menunjukkan sikap polisi masih belum simpatik," katanya.(*un)


















