Yogyakarta, (berita2.com) : Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali diguyur hujan dengan curah tinggi mulai Sabtu (19/12) hingga satu pekan ke depan.
"Mulai Sabtu mendatang selama satu pekan, hujan dengan curah menengah sampai tinggi diperkirakan terjadi di wilayah DIY karena pengaruh badai tropis Laurent di bagian utara Australia," kata Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Geofisika BMKG Yogyakarta Toni Agus Wijaya di Yogyakarta, Rabu (16/12).
Ia mengatakan, hujan yang menghilang sejak sepekan terakhir di wilayah DIY disebabkan uap air dan awan hujan di atas wilayah provinsi ini tertarik ke utara hingga Kalimantan, dan ke barat sampai Sumatra.
"Di daerah-daerah tersebut tekanan udaranya lebih rendah, sehingga uap air dan awan hujan yang ada di atas wilayah DIY tertarik ke sana," katanya.
Selain itu, menurut dia, hujan yang tiba-tiba menghilang dari wilayah DIY juga sebagai dampak dari fenomena alam El Nino.
"Meskipun El Nino di selatan wilayah Indonesia pengaruhnya lemah, namun menyebabkan uap air dan awan hujan yang ada di atas wilayah DIY tertarik sampai wilayah Kalimantan dan Sumatra," katanya.
Toni mengatakan, curah hujan pada musim hujan tahun ini memang fluktuatif. "Curah hujannya berubah-ubah, terkadang tinggi, dan terkadang rendah," katanya.
Menurut dia, curah hujan rata-rata di atas 50 milimeter dalam sepuluh hari merupakan persyaratan sebagai musim hujan. "Curah hujan pada musim hujan biasanya seperti itu," katanya.
Namun, kata dia, kenyataannya tahun ini setelah memasuki musim hujan tiba-tiba hujan menghilang, dan pada pertengahan November lalu terjadi lagi hujan dengan curah normal. "Tetapi pada akhir November hujan mulai sedikit, dan kemudian menghilang sampai sekarang," katanya.
Ia mengatakan, pada zaman dulu setiap akhir Oktober sudah bisa dipastikan mulai memasuki musim hujan, dan musim ini berlangsung hingga enam bulan ke depan. "Sekarang tampaknya ada perubahan, sehingga petani terutama yang menggarap sawah tadah hujan harus selalu mencermati perubahan cuaca," katanya.
Oleh karena itu, kata Toni, pihaknya selalu menginformasikan perubahan cuaca kepada Dinas Pertanian untuk diteruskan kepada kalangan petani.
Menurut dia, kondisi tersebut adalah dampak dari kerusakan lingkungan serta pemanasan global. "Iklim di dunia telah berubah, dan ini tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga negara-negara di hampir seluruh belahan dunia," katanya.
Terkait dengan kerusakan lingkungan, kata dia, meskipun Indonesia selalu berupaya menjaga kelestarian lingkungan terutama hutan, namun jika negara-negara lain tidak melakukannya, dampaknya akan sama saja yaitu secara global kerusakan lingkungan tetap terjadi.(*un)


















