berita2.com (Lamongan, Jawa Timur): Pihak Kepolisian diminta arif dalam memberantas teroris yang gerakannya dalam belakangan ini telah merapuhkan persatuan dan kesatuan bangsa. “Kami tahu tugas polisi ataupun pihak yang diberi kepercayaan oleh pemerintah untuk menumpas teroris amatlah sulit, tapi janganlah kelompokkan jamaah Islam dicap teroris, “ kata KH Ahmad Shobari dalam acara doa bersama untuk keselamatan bangsa di Pondok Pesantren Assomadiyah Sukorejo Bojonegoro, Senin (25 April 2011.
Diakuinya selama adanya bom bali dan sejenisnya di tanah air, tindakan polisi belum menampakkan kebrutalan dalam melawan gerakan teroris. Hal itu terbukti dengan tidak adanya pengetatan acara keislaman, namun dampak dari gerakan teroris dan tindakan penumpasannya yang terus menerus disosialisasikan menyebabkan kekhawatiran dari umat Islam sendiri.
“Perlu dicatat, Islam itu mengajarkan kedamaian dan bukan apa yang telah dilakukan oleh gerakan teroris. Seyakin yakinnya saya melihat gerakan teroris itu hanya untuk menjatuhkan Islam, sehingga perlu diusut tuntas siapa yang ada dibalik gerakan teroris, jadi jangan asal tangkap pelakunya, tapi yang lebih penting siapa dalang semuanya itu, “ tegas KH Ahmad Shobari.
Dia berharap kearifan polisi dan pihak keamanan lainnya yang sudah dilakukan, tetap terus digunakan. Sehingga kekhawatiran umat Islam tidak menjadi jadi dan dengan tenang dapat menjalankan kegiatan ibadah yang telah ada secara turun menurun. “Ya seperti acara ini adalah acara kumpul kumpul yang didalamnya memanjatkan rasa cinta kepada Allah dan berharap kekuatannya untuk memakmurkan bumi dan isinya, “ tambah KH Ahmad Shobari.
Dalam acara yang dihadiri lebih dari 100 undangan dari tokoh agama Islam itu juga dibacakan manakiban yang diakhir doa, para undangan disaji dengan nasi ngaron dan ayam panggang (sajian khas bertampan tanah liat:red). Manakiban itu berlangsung khidmad dengan mengirim doa untuk runtuhnya gerakan teroris di tanah air.
Selain itu meminta kepada Allah untuk dihindarkan dari bencana alam yang belakangan ini kerap kali terjadi. Acara dimulai Pukul 19:30 WIB itu berakhir pada Pukul 21:30 WIB. Setelah menikmati sajian, para undangan yang sebagian besar menggunakan pakaian putih putih itu meninggalkan pondok dengan rasa senang. “Semoga kegiatan yang mendekatkan diri kepada Allah ini tetap berlangsung aman dan tidak terganggu, “ terang Heri, undangan dari Kauman Bojonegoro. (mif)