berita2.com (Malang, Jawa Timur): Sebagai kota wisata, Malang tentu sangat berharap kunjungan wisata di Malang semakin meningkat.Kunjungan wisata yang meningkat tentu akan meningkatkan pendapatan daerah.
Namun tidak demikian dengan hotel-hotel di Malang.Pengusaha hotel mulai dilanda keresahan, karena hotel di Malang banyak bertumbuhan. Perang tarif, perang diskon sangat dirasakan sekali bukan perang pelayanan.
Menurut Ketua PHRI kota Malang Herman mengatakan, tarif hotel di Malang semakin tidak terkontrol. Seharusnya pelayanan hotel yang ditingkatkan, bukan tarifnya yang banting. Banyak permasalahan mengenai perhotelan di Malang yang harus diselesaikan.
Herman menyoroti juga masalah tidak adanya kemudahan wisatawan mancanegara ke Indonesia dan masalah perijinan yang cenderung rumit. Adanya kemudahan wisatawan masuk ke Indonesia ditambah dengan biaya yang lebih murah tentu akan menjadi daya tarik tersendiri.
Dibandingkan dengan negara tetangga, paket wisata ke Indonesia ternyata masih cenderung mahal. Ini yang menjadikan wisatawan mancanegara malas ke Indonesia. Sedangkan permasalahan perijinan juga menambah keresahan pengusaha hotel di Malang.
Untuk mengurus ijin minuman di kota Malang pertahunnya sangatlah mahal dibanding dengan daerah lain. Ijin minuman ini dipatok sekitar 10 juta pertahunnya oleh Dinas Pariwisata. Kenyataan ini sangat sulit dikarenakan kunjungan wisata yang cenderung menurun tiap tahunnya.
Perhatian pemerintah daerah sangatlah diharapkan untuk membantu kenyataan seperti itu. Perijinan dan promosi wisata sangatlah perlu perhatian khusus. Herman menambahkan agar pemerintah kota Malang bisa memikirkan bagaimana agar kota Malang bukan sebagai kota transit wisata namun bisa menjadi kota yang membuat wisatawan menjadi ketagihan untuk datang lagi ke Malang. (heri)