berita2.com (Jakarta): Reuni paguyuban alumni SMA Negeri 3 Malang lulusan 1965 (Paguanama) yang berlangsung di Bangkalan, Sampang dan Pamekasan, Madura sejak 19 sampai dengan Minggu (22/11) diadakan pula peggalangan dana untuk para korban letusan Gunung Merapi.
Atas inisiatif Ketua Panitia Reuni, Prof.M.Sjarifuddin Noer, dr. SpBP(K), terkumpullah dana Rp2. 216.000 dari para peserta reuni Paguanama dan mantan guru-guru SMAN3 Malang. Dana tersebut oleh Ketua Panitia Sjarifuddin Noer diserahkan kepada Ketua Umum DPP Ikatan Alumni SMAN 3 Malang (Ikasmari Agitma) Pudji Asmanto yang sengaja bergabung dalam reuni tersebut.
Menurut Pudji, dana yang ada juga dari para alumni SMAN 3 Malang seluruh Indonesia sebanyak Rp19.415.000,-sedangkan dana terkumpul dari reuni Paguanama Rp 2.216.000. Maka kedua dana tersebut dihimpun menjadi Rp21.731.000.“Kami akan menyampaikannya sendiri ke lokasi pengungsian para korban letusan Merapi. Yang akan pergi dalam waktu dekat ini Ketua Bidang Sosial kami, Firmansyah,” kata Pudji Asmanto.
Dalam malam kesenian reuni Paguanama di Pamekasan, yang dihadiri 70 orang alumni berikut 3 orang guru angkatan tersebut Sjarifuddin Noer selaku ketua panitia mengungkapkan mengapa reuni dilakukan di Madura.
”Kami ingin menunjukkan kepada teman-teman bahwa Madura sekarang ini tidak gersang seperti dibayangkan orang. Ada gunung-gunung yang hijau seperti Puncak,” kata Sjarifuddin Noer yang dikenal sebagai dokter bedah plasik face off di RSU Dr Soetomo Surabaya. Karena itu dengan dibukanya jembatan Suramadu sejak tahun lalu, diharapkan kemajuan ekonomi penduduk Pulau Madura lebih terpacu lagi.
Sementara Ir Bambang Bahagio salah seorang alumni peserta reuni mengakui, Madura cukup hijau dengan hutan jati dan tanaman lainnya. Namun ia tidak dapat membandingkan dengan puluhan tahun lalu karena baru sekali ini ke Pulau Garam tersebut.
Lain halnya dengan Ir Saiin alumni yang pernah memasang jaringan tansmisi listrik di Madura akhir tahun 1978/1979 merasa kagum ada hamparan sawah menghijau di Bangkalan. Begitu juga dr. Susiana juga tidak menyangka daerah yang dulu menjadi ajang PTT sebagai dokter muda kini sudah menghijau pertanda tanahya subur.
“Ini berkat adanya bendungan di sini yang dulu ditentang sementara penduduk yang kurang mengerti,” kata Saiin, pensiunan pejabat PLN di Jakarta dan pernah lama bertugas di Madura dan Surabaya.
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya