
berita2.com (Situbondo, Jawa Timur): Dalam sejarah, Pelabuhan Besuki tempo doeloe memang tidak sebesar Pelabuhan Panarukan pada masa itu. Pelabuhan Besuki dikenal sebagai pelabuhan rakyat, Meski bukan pelabuhan besar antar negeri seperti pelabuhan Panarukan, namun pernah mempunyai peran penting dalam jalur perekonomian rakyat pada pemerintahan kolonial Belanda.
Menurut catatan sejarah, pelabuhan Besuki pernah disinggahi Ratu Belanda Beatrix saat mengunjungi kota Besuki. Pada masa kejayaan pemerintahan Raden Tumenggung Prawirodiningrat II, pelabuhan Besuki menjadi tempat bersandar kapal-kapal VOC sebelum Pelabuhan Panarukan didirikan oleh Ondemer George Bimie pada tahun 1890 an.

Pada perkembangannya pelabuhan Besuki kalah maju dengan pelabuhan Panarukan, sehingga keberadaan pelabuhan Besuki hanya difungsikan sebagai pelabuhan transit dibawah wilayah Syahbandar Kalbut yang lokasinya lebih strategis karena berada di tanjung yang menjorok ke laut. Setelah pusat pemerintahan dipindahkan ke Situbondo, kejayaan pelabuhan Panarukan pun berangsur memudar.
Hal itu disebabkan sedimentasi di pelabuhan Panarukan menyebabkan kapal-kapal besar tidak dapat bersandar. Aktivitas kepelabuhanan kabupaten Situbondo beralih ke pelabuhan Kalbut dan Jangkar. Sementara pelabuhan Besuki menjadi pelabuhan alternatif, bahkan saat ini hanya berfungsi sebagai pelabuhan rakyat dan perkampungan nelayan. Kondisi pelabuhan tersebut sangat memprihatinkan dan tidak terawat. Sebagian aset pelabuhan malah beralih fungsi.

Bagi masyarakat Besuki, mungkin sudah mengenal pelabuhan bersejarah tersebut. Tapi bagi masyarakat di luar Besuki tak banyak yang tahu keberadaannya. Sebagian besar masyarakat Situbondo hanya mengenal pelabuhan Panarukan, Kalbut dan Jangkar, terutama masyarakat yang tinggal di wilayah tengah dan timur.
Dua diantara ketiga pelabuhan tersebut yaitu pelabuhan Jangkar dan Kalbut, hingga saat ini masih melakukan aktivitas kepelabuhanan. Sedangkan pelabuhan Panarukan vakum sejak puluhan tahun lalu, dan baru tahun lalu direncanakan untuk difungsikan kembali dengan dibuatnya dermaga baru senilai kurang lebih Rp. 100 milyar yang dibangun di sebelah barat dermaga lama.

Pemerintah sendiri terkesan mengabaikan keberadaan pelabuhan Besuki, hal itu terbukti dengan kondisi pelabuhan yang memprihatinkan. Papan yang bertuliskan “Kementerian Perhubungan, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kantor Pelabuhan Kalbut” nampak terbengkalai di samping gedung tua yang diketahui sebagai kantor Pelabuhan Kalbut dan Dishub Pemkab.
Menurut Kepala Pelabuhan Kalbut Haji Ansori saat ditemui di lokasi mengungkapkan bahwa pelabuhan Besuki teramsuk dalam wilayah kerja Syahbandar Kalbut. Disinggung soal kondisi pelabuhan yang sangat memprihatinkan, Ansori mengatakan pihaknya masih melakukan negosiasi dengan Pemkab untuk menghidupkan kembali pelabuhan Besuki. Namun hingga kini belum ada titik temu. (gusti)
baca juga
*Pelabuhan Besuki sumber konflik Pemkab dan Pemprov


















