berita2.com. (Madiun, Jawa Timur): Program bantuan sapi kereman untuk kelompok tani Ngupoyo Mulyo desa Kranggan kecamatan Geger kabupaten Madiun Jawa Timur, sebagian "lenyap", tidak jelas jluntrungnya. Padahal program bantuan sapi kereman dari pemerintah pusat ini, dananya bersumber dari APBN yang notabene uang milik rakyat.
Menurut ketua salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal yang enggan disebutkan namanya, pada tahun 2001, kelompok tani Ngupoyo Mulyo mendapatkan bantuan sapi kereman dari pemerintah pusat sebanyak 47 ekor senilai Rp.209 juta, yang disalurkan melalui Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura (Disperta) setempat.
Jika dalam kurun waktu 10 tahun, seharusnya sapi kereman ini berkembang biak dan jumlahnya melebihi dari jumlah ketika bantuan diserahkan. Namun tidak demikian halnya yang terjadi pada kelompok tani Ngupoyo Mulyo. Pasalnya, ketika ada salah satu LSM yang mengecek langsung ke lokasi, jumlah sapi tinggal 13 ekor plus uang tunai sebesar Rp.50 juta.
"Kami sudah mengecek langsung ke kelompok tani. Sapi hanya tinggal 13 ekor. Kalau menurut bendahara kelompok tani, selain sapi yang tersisa, di kas ada uang tunai sebesar Rp.50 juta. Tapi kebenarannya jumlah uang tunai, saya tidak tahu. Soalnya hanya catatan yang ditunjukkan kepada saya. Namun kalau jumlah sapinya, saya melihat langsung",kata salah satu ketua LSM lokal yang enggan disebutkan namanya, kepada berita2.com, Selasa (10/01/2012).
Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura (Disperta) kabupaten Madiun, Mohamad Najib, ketika dikonfirmasi berita2.com mengenai masalah ini, mengaku mendapatkan laporan yang berbeda dari data yang didapat LSM di lapangan. Berdasarkan laporan kelompok tani yang tertuang dalam surat penyataan, jumlah sapi masih ada 30 ekor serta uang tunai Rp.30 juta.
"Kalau laporan dari kelompok tani kepada saya yang tertuang dalam surat pernyataan ini, jumlah sapi masih ada 30 ekor dan uang tunai Rp.30 juta. Kalau ternyata pengakuan kelompok tani ke LSM berbeda, serta LSM menemukan data yang berbeda (jumlah sapi 13 ekor plus uang tunai Rp.50 juta), saya tidak tahu. Coba nanti dalam waktu dekat saya perintahkan staf untuk mengecek langsung",terang Najib, seraya menunjukkan surat pernyataan dari kelompok tani kepada berita2.com.
Masih menurut Najib, ketika program ini terealisasi, dirinya belum menjadi Kepala Disperta. Ketika program bantuan sapi kereman ini terealisasi, Kepala Disperta dijabat oleh Wiyanto Joko Purnomo (Totok), yang sekarang menjabat sebagai Kepala Dinas Perhubungan. Sedangkan yang membelikan sapi, yakni Suyanto, yang juga paman dari Wiyanto Joko Purnomo. (dib).


















