berita2.com (Surabaya, Jawa Timur): Permasalahan Infrastruktur di Indonesia berkembang seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan tingginya tingkat urbanisasi ke perkotaan dan aktivitas masyarakat yang makin dinamis.
Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopembr (ITS) Surabaya, Prof Dr Ir Triyogi Yuwono, mengatakan secara umum, pembangunan infrastruktur berkelanjutan harus memperhatikan tiga aspek yaitu sosiologi, ekonomi dan ekologi.
“Tidak bisa kalau salah satunya saja. Karena itu, karya apapun harus dipertimbangkan terhadap tiga aspek itu,” katanya dalam Seminar Nasional Menuju Penyelenggaraan Infrastruktur Berkelanjutan yang diadakan bekerja sama dengan Badan Pembina Konstruksi, Kementerian Pekerjaan Umum di Rektorat ITS pada Selasa (13/12/2011).
Topik ini dianggap tepat karena dapat mendukung konstruksi yang berkelanjutan dan sesuai dengan perubahan lingkungan yaitu kompetisi yang semakin ketat di era perdagangan bebas, serta adanya isu global warming dan climate change.
Yogi berharap, pembangunan proyek konstruksi di Indonesia akan mengembangkan pola ramah lingkungan sehingga pembangunan infrastruktur berkelanjutan dapat tercapai.
“Saya berharap seminar ini dapat menjawab tantangan pembangunan infrastruktur berkelanjutan untuk ke depannya,” ujarnya.
Kepala Bidang Teknik Konstruksi Berkelanjutan, Kementerian PU, Ir Dewi Chomistriana, mengatakan sudah saatnya konstruksi di Indonesia mengembangkan Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek).
“Bila kita tidak berupaya mengembangkan Iptek terkait konstruksi berkelanjutan, maka niscaya sektor konstruksi kita akan tertinggal jauh dengan negara-negara lain yang telah mengembangkan dan menerapkan beragam teknologi green construction,” ujarnya.
Hal ini wajar mengingat pasar konstruksi di negara-negara maju telah mensyaratkan penerapan green construction yang ditengarai akan menjadi trendsetter di pasar konstruksi domestik di Indonesia. Jika sumber daya konstruksi kita tidak siap maka pasar konstruksi Indonesia akan menjadi santapan empuk bagi jasa dan produk konstruksi asing yang telah memiliki eco-label.
Pembangunan beragam jenis konstruksi pada dasarnya ditujukan untuk memenuhi kehidupan yang nyaman, produktif dan berkelanjutan, yang tentunya berkaitan erat dengan isu kelestarian lingkungan.
Pemerintah, dalam hal ini Kementerian PU, bertekad untuk dapat menerapkan kebijakan pembangunan konstruksi berkelanjutan dengan memperhatikan konsep-konsep pembangunan yang telah berkembang di dunia, seperti konsep Triple Zero yang telah diterapkan di Jerman yaitu Zero Energy, Zero Emition dan Zero Waste. (natalia)


















