Seterusnya, ratusan massa bergerak ke kantor kejaksaan yang hanya bejarak seratus meter dari Mapolres. Di kejaksaan, beberapa perwakilan massa yang dipimpin Herutomo dari LSM Abimantrana, diterima langsung oleh Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Madiun, Ninik Mariyanti. Kepada Ninik, perwakilan pendemo meminta agar kejaksaan jangan takut untuk melibas para koruptor.
"Saya siap memberantas korupsi. Saya juga mengucapkan terima kasih atas dukungannya kepada kejaksaan dalam rangka pemberantasan korupsi", kata Ninik usai menerima kenang kenangan sebuah kaos.
Sekitar tiga puluh menit di kejaksaan, massa yang membawa beberapa spanduk bertuliskan, "Brantas Tuntas Mafia Hukum", "Koruptor Raja Maling", "Koruptor=Bajingan", "Mari Kita Mutilasi Penjahat Korupsi", bergerak ke kantor pemerintah kota (pemkot) Madiun. Di balai kota, perwakilan massa hanya ditemui oleh Assinten II, Suyoto. Sementara para pejabat lain, tak ada yang menampakkan batang hidungnya.
Tak hanya tiga instansi saja yang didatangi oleh massa. Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun, tak luput dari aksi demo gabungan LSM Wahana Komonikasi Rakyat (WKR), Abimantrana dan Mantra ini. Bahkan saat berdemo di pemkab, nyaris ricuh. Pasalnya, pintu gerbang langsung ditutup dan massa tidak bisa masuk. Baru setelah diadakan negoisasi antara perwakilan massa, polisi dan satpol PP, sebagian massa diperkenan masuk.
Namun seperti halnya di pemkot, perwakilan massa di pemkab hanya ditemui oleh Kasi Siaga Kesbanglinmas, Joko Purnomo. Kepada Joko, massa berpesan agar pemkab Madiun turut serta dalam hal pemberantasan korupsi di lingkungan pendopo (sebutan pemkab Madiun). Sebelum meninggalkan pendopo, massa sempat menyerahkan seekor tikus sebagai simbul sang koruptor.
Setelah mendatangi empat instansi, kemudian massa bergerak ke depan pasar besar Madiun untuk melakukan doa bersama agar pembangunan pasar segera selesai. Pasalnya, pembangunan pasar yang menelan biaya 70 milyar rupiah lebih ini, menjadi polemik dikarenakan harus rampung sebelum awal 2012. Namun kondisi bangunan masih tampak acak acakan. (dib)


















