Menurut siaran pers Bank Indonesia Kediri yang diterima berita2.com, Jum'at (02/12/2011), pada triwulan III (Juli-Agustus-September), kiriman uang (remitansi) yang dikirim oleh para TKI, mengalami penurunan 6,57% dibandingan dengan triwulan II. Pada triwulan III ini, para TKI yang berasal dari wilayah eks karesidenan Madiun dan Kediri, mengirimkan uang sebanyak 404,99 milyar rupiah. Sedangkan pada triwulan II, kiriman uang TKI mencapai 433,45 milyar rupiah.
Kiriman uang para TKI ke kampung halamannya ini, terbesar diduduki oleh para TKI dari kota/kabupaten Madiun yang mencapai 103,93 (25%). Menyusul Tulungagung dengan nilai 101,84 milyar rupiah (24%), kota/kabupaten Blitar sebesar 82,24 milyar rupiah (24,21%), Ponorogo 62,32 milyar rupiah (16%) serta kota/kabupaten Kediri mencapai 58,74 milyar rupaih (9%). Sedangkan lima kabupaten lainnya yang masuk wilayah kerja Bank Indonesia Kediri, tidak mencapai 5 prosen.
Sementara itu, salah satu Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal kabupaten Madiun Jawa Timur, Mujiasri, yang bekerja di Hongkong, ketika dikonfirmasi berita2.com via telepon mengenai turunnya nialai kiriman uang yang dikirim oleh rekan rekanya seperti yang dirilis Bank Indonesia Kediri, mengatakan jika banyak faktor yang menjadi penyebabnya.Satunya yakni, membengkaknya kebutuhan pulsa.
Bagi para tenaga kerja Indonesia yang sudah lama bekerja di luar begeri, biasanya mereka mengalami rindu berat kepada keluarga yang ditinggalkan. Untuk mengobati rasa rindu yang terpendam itu, mereka melepaskannya dengan cara menelepon hingga puluhan menit lamanya. Bahkana ada yang menelepon keluarganya hingga satu jam.
"Bagaimana kiriman uang tidak berkurang. Kalau sudah lama di negeri orang, kita menelepon keluarga hampir tiap dua hari sekali. Bahkan setiap kali telepon, paling tidak tiga puluh menit. Pulsa yang biasa satu bulan cukup 500 dollar Hongkong, bisa membengkak hingga 1000 dollar Hongkong. Jadi wajarlah kalau kiriman uang kita ke kampung halaman menurun", terang Mujiasri. (dib)


















