berita2.com (Ponorogo, Jawa Timur): Akibat kekeringan yang cukup panjang, berbagi wilayah di Ponorogo mengalami kekeringan. Tak hanya area persawahan yang kering, sejumlah sumur milik warga juga sudah mongering.
Sehingga harus rela berjalan bekilo-kilo meter hanya sekedar mengambil air untuk keperluan sehari-hari. Seperti minum, mandi dan mencuci. Seperti yang terjadi didesa Duri kecamatan Slahung dan desa Karangpatihan kecamatan Balong.
Kepala Dinas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Siswanto saat ditemui dikantornya Rabu (9/11/2011) mengatakan, ada tiga kategori kekeringan. Yang pertama, kekeringan langka terbatas, yang kedua kekeringan langka dan yang ketiga kekeringan kritis. “Ponorogo termasuk kategori pertama, yaitu kekeringan langka terbatas. Dalam kategori ini, warga mengambil air besih dengan jarak 0,5 hingga 1,5 kilometer. Dengan ketersediaan air 30-60 liter per jiwa per hari,” terangnya.
|
Kategori Kekeringan |
Jarak Pengambilan Air |
Jumlah Air |
|
I (Langka terbatas) |
0,5 - 1,5 KM |
30-60 Liter/hari/jiwa |
|
II (Langka) |
1,5 - 3 KM |
10-30 liter/hari/ jiwa |
|
III (Kritis) |
Lebih dari 3 KM |
Dibawah 10 Liter/hari/jiwa |
Sumber : BPBD Ponorogo
Dia juga mengatakan, terdapat dua daerah yang masuk kategori tersebut, yaitu desa Duri kecamatan Slahung dan desa Karangpatihan kecamatan Balong. Upaya yang telah dilakukan, lanjutnya, dengan mengirim air bersih dari PDAM yang dikirim seminggu dua kali. Namun, jika dibutuhkan, dapat dilakukan pengiriman kembali. “Selalu berkoordinasi dengan satker-satker terkait,” tandasnya.
Dia juga mengatakan, saat ini dua desa terebut juga telah mendapatkan bantuan dari provinsi Jawa Timur. Yang diterima awal bulan November ini. Sebesar 22,5 juta perdesa. Yang berbentuk bantuan air bersih. “Semua sudah disalurkan sesuai mekanisme yang berlaku,” pungkasnya. (ded)


















