berita2.com: (Surabaya, Jawa Timur): Laboratorium Studi Energi dan Rekayasa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menggelar Seminar Nasional Zeolit VII di Hotel Majapahit pada Senin (17/10/2011).
Tujuannya meningkatkan sinergi antara saintis, engineer dan praktisi untuk mencari solusi masalah di bidang zeolit dan aplikasinya agar dapat memajukan kesejahteraan dan kedaulatan bangsa.
Seminar menghadirkan President of Chinese Zeolite Assosiation, Prof. Shinlun Qiu PhD, Secretary of CZA, College of Chemistry Jili University, Prof. Wenfu Yan PhD, Prof. Jiesheng Chen dari Shanghai Jiao Tong University dan beberapa pembicara lain dari UGM dan Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian.
Menurut ketua panitia seminar, Hamzah Fansuri PhD, seminar ini untuk mendekatkan hubungan antara produsen dan konsumen untuk mendorong kemitraan yang lebih kondusif serta menunjang IPTEK guna pengembangan zeolit. Dengan berkembangnya pengusaha zeolit di Indonesia, diharapkan dapat meningkatkan pendapatan negara dan mengurangi produk impor sehingga menghemat devisa Negara.
Sebenarnya Indonesia kaya akan deposit mineral zeolit yang tersebar di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara dan Maluku. Namun hingga kini pemanfaatannya relatif terbatas karena kurangnya penelitian dan pengembangan yang mengarah kepada pemanfaatan zeolit.
Pembantu Rektor IV ITS, Prof. Dr. Darminto, mengatakan potensi cadangan zeolit di bumi nusantara ini sangat besar, lebih dari 400 juta ton dan dapat berperan di berbagai sektor termasuk pertanian, industri dan lingkungan.
“Kandungan zeolit sangat besar, tapi belum dimanfaatkan secara baik. Penguasaan tentang sains dan teknologi zeolit melalui penelitian dan pengembangan yang dilakukan secara sinergitas antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, instansi pemerintah, masyarakat umum serta industri akan dapat memberi sumbangan yang berarti bagi peningkatan kesejahteraan rakyat yang pada akhirnya dapat menguatkan kedaulatan bangsa,” katanya saat membuka seminar.
Ketua Ikatan Zeolit Indonesia (IZI) Pusat, Dr. Suwardi, menambahkan mineral zeolit mempunyai potensi sangat besar namun faktanya zeolit alam hanya digali dan diekspor sebagai material mentah yang memiliki nilai ekonomi yang relatif rendah.
“Padahal kita ketahui bahwa nilai ekonomi yang diperoleh dan kerusakan alam akibat penggalian tidak seimbang. Dengan pertemuan ini, diharapkan dapat memunculkan beberapa ide positif yang nantinya dapat meningkatkan nilai ekonomi zeolit,” ujarnya. (natalia)


















