berita2.com (Kupang): Garam yang akan diproduksi di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), merupakan garam terbaik di Indonesia. Kondisi ini didukung oleh luas areal, mutu dan iklim di lingkungan setempat.
Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Perindustrian, Alex Retraubun, saat memaparkan materi tentang potensi dan peluang industri garam di Indonesia, pada acara tatap muka dengan para pejabat di lingkungan Pemprov NTT, di Kupang, Jumat malam.
Menurut Alex, saat ini salah seorang investor dari Australia sedang melakukan studi kelayakan untuk membuka usaha garam berstandar internasional di Nagekeo.“Investor tersebut adalah pemilik industri garam terbesar di Australia. Diharapkan, tahun depan dia sudah memulai usahanya di Nagekeo,”katanya.
Dia mengatakan, pemerintah terus berupaya mengembangkan industri garam di Indonesia, guna memenuhi kebutuhan dalam negeri, bahkan untuk tujuan ekspor setelah melihat potensi yang ada di beberapa daerah selain Pulau Madura, sebagai daerah penghasil garam terkemuka di Indonesia.
Dia mengakui, sampai tahun 2010, Indonesia masih mengimpor garam dari luar negeri terutama dari Australia, khususnya untuk kebutuhan industri.
“Potensi produksi garam Nagekeo, rata-rata mencapai 150.000 – 200.000 ton per tahun. Sedangkan luas lahan untuk memproduksi garam 2000 hektare, namun, saat ini yang baru bisa dimanfaatkan 700 hektare. Kita juga butuh gukungan masyarakat dan Dinas Pekerjaan Umum setempat untuk menyiapkan infrastruktur terutama jalan ke lokasi tersebut ,” ujarnya.
Kata dia, selain Kabupaten Nagekeo, wilayah perairan sekitar Teluk Kupang, di Kabupaten Kupang, memiliki potensi ditunjang luas lahan potensial dan salinitas yang sangat baik untuk memproduksi garam.
Luas lahan potensial di Kabupaten Kupang, jelasnya, selain dimanfaatkan masyarakat setempat binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTT, sementara sebagian besarnya masih terkendala dengan Hak Guna Usaha (HGU) PT Panggung Guna Ganda Semesta, yang tidak beroperasi sejak Indonesia diterpa krisis ekonomi tahun 1997 lalu, dan baru akan berakhir beberapa tahun ke depan.
“Untuk wilayah NTT kita tetap fokus pada produksi garam di Nagekeo dan Desa Oeteta, Kabupaten Kupang, guna menurunkan besarnya impor garam dan pemenuhan kebutuhan dalam negeri,” katanya.(Albertus)