berita2.com (Kupang): Ketua Komisi B DPRD Nusa Tenggara Timur (NTT), John Umbu Deta, mengatakan, daerah ini membutuhkan 8.728 unit traktor besar, untuk mengolah 1.636.493 hektare lahan kering pada 21 kabupaten/kota, sementara yang ada saat ini baru 74 unit.
Umbu Deta mengatakan itu, di Kupang, Rabu, dalam rapat paripurna DPRD NTT, yang membahas rancangan perubahan APBD Provinsi NTT Tahun Anggaran 2010.
Menurut Umbu Deta, selain kekurangan traktor besar, untuk mengolah lahan basah fungsional seluas 171. 822 hektare, juga dibutuhkan hand traktor sebanyak 13.746 buah, sementara yang ada saat ini baru 2.502 unit, yang tersebar di 21 kabupaten/kota.
“Berdasarkan data tersebut, Komisi B mendukung pengadaan traktor besar dan hand traktor, sebagai sarana pengolahan lahan untuk mendukung tekad pemerintah daerah menjadikan NTT sebagai Provinsi Jagung dan diversifikasi pangan,” katanya.
Dia mengatakan, Komisi B juga meminta pemerintah, melalui instansi teknis khususnya Dinas Pertanian dan Perkebunan NTT, untuk mempercepat proses pelelangan dan dengan tidak mengabaikan ketentuan yang ada, sehingga traktor-traktor tersebut dapat digunakan tepat waktu dan tepat guna oleh masyarakat petani di daerah ini.
Selain itu, katanya,pemerintah melalui SKPD perlu melakukan koordinasi dan sinergitas dengan pemerintah kabupaten/kota dalam pendampingan masyarakat petani serta merencanakan berbagai program dengan melihat luas lahan potensial, produktif dan sarana serta prasarana pengolahan lahan.
“Keberhasilan program menjadikan NTT sebagai Provinsi Jagung tidak hanya terukur pada program intensifikasi, tetapi juga pada program ekstensifikasi yang dilakukan masyarakat,” tandasnya.
Komisi B, lanjutnya, meminta instansi teknis untuk melibatkan masyarakat melalui GAPOKTAN yang ada di desa-desa dalam berbagai pelatihan yang dilakukan, agar masyarakat semakin mengenal teknologi dan sistem pertanian yang baik.
“Kami mendorong Dinas Pertanian dan Perkebunan dalam mengalokasikan anggaran lebih mengutamakan bidang pertanian dan perkebunan dengan memperhatikan komoditi unggulan sesuai karakeristik wilayah, sehingga programnya bernar-benar tepat sasaran,” ujarnya.(Albertus)