Kupang, (berita2.com) : Kabupaten Sumba Timur di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), berpotensi menjadi gurun akibat proses penghilangan vegetasi dan penurunan kelembaban tanah di wilayah timur Pulau Sumba itu.
Demikian dikemukakan seorang peneliti ilmu kehutanan dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Dr L Michael Riwu Kabo di Kupang, Kamis (4/3).
"Kami mengambil sampel penelitian pada Bukit Wairinding di Desa Pambota Jara, Kecamatan Pandawai, Sumba Timur. Daerah ini terletak pada ketinggian antara 100-200 meter di atas permukaan laut dengan formasi vegetasi asli adalah padang rumput savana," katanya.
Riwu Kaho yang merupakan dosen Fakultas Peternakan Undana Kupang itu menguraikan, iklim di kawasan tersebut merupakan gambaran umum tipe iklim kering dan semikering atau berdasarkan klasifikasi iklim Schmidt-Fergusson disebut iklim tipe E.
Proses penggurunan itu terjadi, katanya menjelaskan, karena hilangnya vegetasi dan penurunan kelembaban tanah.
"Kondisi ini sedang terjadi di Sumba Timur, sehingga kemungkinan terjadinya proses penggurunan di wilayah timur Pulau Sumba itu bisa saja terjadi. Ini semua terjadi akibat aktivitas manusia yang juga dipengaruhi oleh variasi iklim," katanya menjelaskan.
Menurut Riwu Kaho, bukti-bukti perubahan iklim global dan dampak lokal dimaksud tidak bisa terbantahkan lagi, karena sudah melanda juga wilayah Sumba Timur.
Ia menguraikan, jika dibandingkan dengan kondisi 50-100 tahun lalu, luas hutan di Sumba Timur saat ini tinggal sekitar enam hingga tujuh persen saja.
"Ini sebuah kemunduruan formasi vegetasi yang luar biasa. Dari aspek ini pun, gejala umum proses penggurunan patut diduga telah terjadi di Wairinding, Sumba Timur. Akan tetapi bukti ini harus ditelusuri lebih jauh lagi," ujarnya.
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan pihaknya pada 10 titik di sekitar perbukitan Wairinding sebagai sampling menunjukkan bahwa total areal basah yang tercakup oleh vegetasi tidak lebih dari 20 persen.
Sebagian besar vegetasi adalah rumput jenis annual yang hanya tumbuh semusim, seperti rumput jenis fymbristilis sp dan eragrostis sp, katanya.
Riwu Kaho menambahkan, semua titik pengamatan menunjukkan bahwa batuan induk telah berada pada bagian teratas profil tanah, sedang di lembah-lembah sekitar bukit Wairinding kedalaman lapisan tanah hasil erosi dan sedimentasi hanya mencapai satu sampai dua meter.
Profil tanah normal yang ada di wilayah tersebut menunjukkan bahwa serasah atau sisa-sisa tanah dan bahan organik tanah hasil dekomposisi serasah, horison mineral berbahan organik tinggi sehingga berwarna agak gelap.
"Berbagai variabel yang ada menunjukkan bahwa proses penggurunan telah tampak di Wairinding, Sumba Timur," ujarnya.
Ia menambahkan proses penggurunan yang dramatis pernah terjadi di The Great Plain, Amerika Serikat sekitar 1930-an.
Proses penggurunan yang dramatis sebagai akibat dari adanya usaha peternakan yang berlebihan (overgrazing) yang terjadi bersamaan dengan pola mosaik iklim mikro dan kebakaran lahan yang masif merupakan penyebab utama perubahan sebagian The Great Plain menjadi gurun.
Ia mengemukakan pola penggunaan lahan seperti yang terjadi di The Great Plain tampak jelas terjadi juga di Wairinding.
"Sulit untuk dihindarkan jika dikatakan bahwa proses penggurunan telah menampakkan wajahnya di Wairinding, Sumba Timur," demikian Michael Riwu Kaho.(*un)
Bali / Nusatenggara
Sumba Timur Akan Berubah Jadi Gurun
Dukun Beranak Tangani 15 Persen Persalinan di Mataram
Mataram, (berita2.com) : Persalinan di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, 15 persen masih ditolong dukun beranak terlatih, sedangkan 85 persen dibantu tenaga medis.
"Masih ada warga yang minta pertolongan dukun beranak terlatih meski di setiap kelurahan sudah ada bidan," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr. IG. Lania, di Mataram, Rabu (3/3).
Ia mengatakan 15 persen persalinan yang ditolong dukun beranak terlatih itu jauh berkurang dibandingkan dua tahun lalu sekitar 30 persen, dan diperkirakan dalam beberapa tahun ke depan tidak ada lagi persalinan yang ditolong dukun terlatih.
Masyarakat yang minta bantuan persalinan dengan dukun beranak terlatih bukan karena tidak mampu membayar, apalagi sekarang proses melahirkan tidak dipungut biaya.
"Hal ini disebabkan warga lebih suka ditolong dukung beranak terlatih, bahkan ada warga yang punya tujuh anak semuanya dibantu dukun beranak terlatih," katanya.
Menurut dia dalam memberikan pertolong terhadap persalinan biasanya dukun beranak terlatih tetap bekerja sama dengan tenaga medis terutama jika persalinan itu berisiko tinggi.
Selain itu, kata dia, tradisi masyarakat Lombok jika melahirkan, setelah tali pusar putus, dilaksanakan acara "medak api" sekaligus memberikan nama kepada bayi.
"Dalam acara `medak api` ini peranan dukun cukup besar, ibu bayi mandi dengan santan kemudian diurut sambil membakar ampas kelapa," katanya.
Terkait beroperasinya Rumah Sakit Mataram (RSM), ia mengatakan akan sangat membantu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat termasuk persalinan karena di rumah sakit itu ada dokter spesialis kandungan.
Wali Kota Mataram H. Moh. Ruslan saat meresmikan pengoperasian RSM mengatakan tidak ada istilah pasien ditolak jika berobat ke rumah sakit ini karena fungsinya memang untuk melayani masyarakat.
"Kalau ada masyarakat yang datang berobat ke RSM baik mampu maupun tidak harus dilayani dulu, soal biaya dibicarakan kemudian," katanya.
RSM Mataram dibangun secara bertahap selama tiga tahun dengan biaya Rp56 miliar yang bersumber dari APBD Kota Mataram.(*un)
Bali Bangun Pusat Yoga Terbesar di Asean
Denpasar, (berita2.com) - Bali-India Foundation segera membangun "Markandeya Yoga City", pusat yoga terbesar di Asia Tenggara, tahap pertama di atas lahan seluas 2,5 hektare yang dikembangkan hingga 15 hektare di Banjar Gunung Sari, Desa Tegallinggah, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng sekitar 80 km utara Denpasar.
"Peletakan batu pertama pembangunan fasilitas pendukung kegiatan yoga akan dilakukan Gubernur Bali Made Mangku Pastika bertepatan dengan pembukaan Internasional Bali-India Yoga Festival (IBIF) ke II, 4 Maret mendatang," kata Ketua Yayasan Bali-India Dr Somvir didampingi Ketua Panitia IBIF Prof Dr I Nyoman Sirta, SH di Denpasar Jumat.
Ia mengatakan, pusat yoga dengan sarana pendukung yang memadai termasuk tempat pemondokan (pasraman) dibangun secara bertahap, nantinya diharapkan merupakan terbesar di ASEAN, bahkan di dunia.
Kawasan "Yoga City" ke depan diharapkan menjadi sebuah tempat yoga untuk mengolah rasa, raga dan spiritual, sekaligus miniatur kecil pegunungan Himalaya yang ada di India.
Berbagai persiapan telah dilakukan menjelang beroperasinya pusat yoga tersebut, termasuk melatih guru-guru yoga ke India serta menjalin kerjasama dengan berbagai pihak di dalam dan luar negeri.
"Dalam tahun ini akan dilatih enam guru yoga sekaligus mendalami masalah pengobatan tradisional *ayurwddha ) ke India, di samping guru-guru yoga yang sudah berpengalaman luas di dunia internasional," ujar Dr Somvir.
"Markandeya Yoga City" dalam perkembangannya akan mengelola jenjang pendidikan mulai Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Umum (SMU) bernuansa yoga.
Lembaga pendidikan dalam berbagai jenjang itu juga menekankan pengobatan tradisional atau "ayurwedha" dan keterpaduan dengan pengobatan modern dengan memanfaatkan aneka jenis tanaman yang tumbuh dalam lingkungan sekitarnya.
Pembangunan Markandeya Yoga City tersebut akan dilakukan secara bertahap, termasuk perluasan lahan dengan merangkul swadaya dan peran serta masyarakat setempat.
"Yoga city sepenuhnya kegiatan sosial untuk mengabdikan diri pada sesama umat manusia," tutur Dr Somvir.
Mengawali kegiatan tersebut kini sudah ditanam ribuan pohon atau sekitar 50 jenis tanaman obat yang mempunyai khasiat untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit yang diperoleh dari sejumlah daerah di Bali, Indonesia, termasuk yang didatangkan secara khusus dari India.
NTB Sanggupi Permintaan Tenaga Medis Untuk Qatar
Mataram, (berita2.com): Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menyanggupi permintaan Qatar yang akan memanfaatkan tenaga medis asal NTB untuk dipekerjakan di negara tersebut.
"Meski jumlah tenaga medis di NTB belum lebih, pemerintah provinsi sanggup memenuhi permintaan itu," kata Sekretaris Daerah (Sekda) NTB H. Abdul Malik, di Mataram, Kamis(25/02), usai pertemuan koordinasi dengan delegasi medis dari Qatar.
Delegasi medis dari Qatar itu dipimpin Direktur Eksekutif Al Meer Coop Qatar, Nabila Al Meer dibantu asisten direktur Wasiya.
Dalam kunjungannya ke NTB, delegasi Medis Qatar didampingi Kepala Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Profesi dan Tenaga Kesehatan Luar Negeri Kementerian Kesehatan RI Meinarwati beserta staf.
Malik mengakui delegasi medis Qatar belum menyebut jumlah dan kualifikasi tenaga medis yang dibutuhkan dari NTB karena mereka juga menawarkan hal serupa di provinsi lain di Indonesia.
Namun informasi tidak resmi yang diperoleh Pemprov NTB menyebutkan Qatar memerlukan sedikitnya 200 orang tenaga medis dari Indonesia setiap tahun.
"Sebanyak 200 orang tenaga medis asal Indonesia itu akan dikontrak paling sedikit dua tahun dan dapat diperpanjang dengan upah di atas Rp10 juta/bulan," katanya.
Menurut dia jumlah lulusan pendidikan jenjang Diploma III (D3) dari sejumlah perguruan tinggi bidang kesehatan di NTB setiap tahun mencapai 500 orang, berarti sebagian dapat dimanfaatkan tenaganya di Qatar.
Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan (Bappeda) NTB H. Rosiyadi Sayuti mengatakan niat Qatar untuk mempekerjakan tenaga medis dari NTB cukup tinggi karena berbagai faktor.
Selain faktor agama, yakni sama-sama beragama Islam, juga karena ketertarikan negara tersebut terhadap budaya NTB.
"Itu sebabnya pihak terkait menyiapkan RSUD Selong di Lombok Timur sebagai rumah sakit yang akan dijadikan tempat pelatihan dan pemantapan tenaga medis asal NTB yang akan dipekerjakan di Qatar," ujarnya.(*ek)
Bali Ekspor Ikan Hias Sebanyak 2,82 Juta Ekor
Denpasar, (berita2.com): Bali berhasil mengekspor ikan hias sebanyak 2,82 juta ekor dan mampu menghasilkan devisa sebesar 930.743 dolar AS selama 2009.
Pengiriman hasil perikanan laut tersebut mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 13,5 juta ekor senilai 4,7 juta dolar AS, kata Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Bali Ir Gusti Putu Nuriarta di Denpasar, Rabu(24/02).
Ia mengatakan, menurunnya nilai ekspor matadagangan ikan hias tersebut akibat berbagai kendala, antara lain kesulitan nelayan menangkap ikan hias hidup akibat cuaca kurang menguntungkan.
Meskipun demikian masih sangat berpeluang untuk meningkatkan perolehan devisa hasil sub sektor perikanan tersebut dalam tahun 2010.
Gusti Nuriarta menambahkan, ikan hias yang ditangkap di peraiaran Bali, maupun daerah lainnya di Indonesia yang diekspor dari Bali menembus pasaran Jepang, Amerika Serikat dan Australia.
Perairan Bali sebenarnya cukup kaya terhadap keanekaragaman ikan hias yang berwarna-warni berkembang biak pada terumbu karang di dasar laut, maupun terumbu karang buatan pada sejumlah lokasi habitat ikan hias.
Gusti Nuriarta menambahkan, nelayan lokal dalam menangkap matadagangan bernilai ekonomis tinggi itu tetap memperhatikan kelestarian dan menghindari menggunakan bahan peledak.
Untuk itu penangkapan ikan dilakukan dengan menggunakan alat sederhana berupa jaring, sehingga hasil tangkapannya tidak begitu banyak, namun tetap lestari dan terjaganya kelangsungan terumbu karang sebagai tempat berkembang biaknya ikan hias.
Ekspor ikan hias merupakan salah satu dari 47 jenis matadagangan hasil perikanan dan kelautan yang mampu menembus pasaran mancaneara.
Bali mengekspior hasil perikanan dan kelautan senilai 125,2 juta dolar AS selama 2009, meningkat 22.9 persen dibanding tahun sebelumnya yang hanya 92,9 juta dolar AS, tutur Gusti Nuriarta.(*ek)
Artikel Lain...
Halaman 1 dari 24

















