berita2.com (Pangkalpinang, Bangka Belitung): Belasan massa dari aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Provinsi Bangka Belitung, melakukan aksi unjuk rasa di Gedung DPRD Babel, Kamis (22/12).
Dalam Mereka menuntut agar anggota dewan agar pro kepada rakyat untuk menghentikan aktifitas dan perizinan kapal isap dan perkebunan kelapa sawit di Bangka Belitung.
Para aktivis HMI tersebut disambut langsung oleh Ernawan Robuin, Wakil ketua DPRD Provinsi Bangka Belitung, bersama Latif pribadi, Sekretaris Dewan, sejumlah anggota DPRD dan SKPD Pemerintahan Provinsi Bangka Belitung yang pada waktu itu sedang mengadakan agenda rapat. Didepan anggota dewan, parak aktivis berorasi menyatakan bahwa kapal isap dan perusahaan sawit tidak mampu mensejahterakan masyarakat.
Mahasiswa kecewa melihat sikap anggota dewan yang hanya diam, melihat kondisi masyarakat Bangka Belitung tetap susah diantara kelapa sawit dan kapal isap.
"Kami sudah bosan melihat bapak-bapak anggota dewan. Kenapa lahan kelapa sawit tetap diizinkan. Kita lihat siapa pemilik kapal isap, bukan masyarakat di daerah itu. Sebenarnya, dari hasil timah kita bisa buat jembatan layang dari Bangka ke Belitung. Tapi timah kita dimakan oleh oknum tertentu saja," ujar seorang orator HMI di depan Kantor DPRD Babel.
Usai berorasi, mereka mendesak Wakil Ketua DPRD Provinsi Bangka Belitung Ernawan Rebuin untuk menandatangani penolakan kapal isap dan perkebunan kelapa sawit. "Ayo kita tunggu sikap dewan. Tidak perlu ocehan mereka. Kapan mereka berpihak kepada kita," imbuhnya.
Namun, Ernawan tak bergeming. Dia tidak mau menandatangi pernyataan yang dibuat mahasiswa. Diakhir aksi, sempat terjadi ketegangan diantara pengunjuk rasa dengan anggota Pol PP Provinsi Bangka Belitung. Ketegangan bermula dari salah satu massa mencoba menurunkan bendera merah putih yang terpasang di kantor DPRD.
Namun, aksi mahasiswa itu dicegah oleh sejumlah anggota Sat Pol PP dibantu oleh belasan aparat kepolisian dari Polresta Pangkalpinang yang mengamankan aksi unjuk rasa. Namun, si mahasiswa tetap bersikeras untuk menurunkan bendera dengan melepas tali yang terikat di tiang bendera. Melihat aksi nekad si mahasiswa, satu orang anggota dengan tangkas mengamankan mahasiswa tersebut. (edy)















