berita2.com, (Gunungkidul, Yogyakarta): Pasca penghentian kebijakan impor sapi Australia beberapa saat lalu, harga sapi di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta terus merangkak naik.
Namun dibalik kabar gembira itu, para peternak sapi justru dihadapkan dengan adanya masalah baru yakni menipisnya stok hijauan makanan ternak (HMT). Bahkan tak jarang dari mereka sejak bulan Juni lalu mulai membeli HMT dari penjual pakan baik berupa rumput Kolonjono maupun Tebon Jagung yang didatangkan dari luar Gunungkidul.
Seperti dialami beberapa peternak diantaranya Wardi Adi Karsono dan Sularto, keduanya warga Desa Karangrejek, Kecamatan Wonosari, bahwa sejak pertengahan bulan Juni kemarin stok hijauan pakan ternak di ladang miliknya telah menipis dan mulai saat itu pula ia mulai membeli pakan sistem tebas (borong) di ladang milik tetangga dengan nominal mencapai ratusan ribu rupiah. Guna mengantisipasi masalah itu mereka terpaksa mengurangi hewan ternak dengan menjualnya demi menghemat stok hijauan pakan ternak untuk bulan berikutnya.
Terkait mulai langkanya hijauan makanan ternak, Kepala Dinas Peternakan Gunungkidul, drh. Krisna Berlian kepada wartawan di kantornya, Rabu (13/7) mengakui masalah tersebut. Menurutnya, hal tersebut merupakan persoalan klasik yang dihadapi peternak setiap musim kemarau. Oleh karena mulai tipisnya stok pakan itu, Kabupaten Gunungkidul terpaksa mengimpor pakan berupa tebon jagung dari luar daerah seperti Kabupaten Bantul dan Klaten, Provinsi Jawa Tengah.
Oleh karenanya, pihaknya menghimbau kepada para peternak agar lebih menyiasati minimnya hijauan pakan ternak dengan pakan alternatif yang dicampurkan ke dalam minuman ternak seperti katul, gembus (limbah pembuatan tahu), maupun gaplek (ketela kering). Dengan demikian predikat Kabupaten Gunungkidul sebagai gudangnya ternak sapi dapat dipertahankan, sekaligus menyongsong rencana program swasembada daging yang dicanangkan oleh pemerintah pusat tahun 2014 mendatang.
Secara terpisah, Sekretaris Dinas peternakan, Drs. Siswanto menyatakan bahwa data terakhir per 5 Juli 2011 hasil sensus hewan ternak khusus sapi dan kerbau yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik Gunungkidul beberapa saat lalu, populasi ternak sapi di Gunungkidul mencapai angka fantastis yakni mencapai 170.000 ekor. Di sisi lain ia menyayangkan kondisi dilematis yang dialami oleh peternak akhir-akhir ini dimana harga sapi di pasaran mulai naik, tetapi justru disambut dengan menipisnya stok hijauan pakan ternak.
“Berdasarkan pantauan kami di beberapa pasar hewan, harga sapi awal pada tahun 2011 lalu untuk pedhet (sapi muda) jenis Simental hanya mencapai 2 juta, sekarang naik menjadi Rp 4 juta sampai Rp 4,5 juta. Sedang untuk sapi dewasa sebelumnya hanya sekitar Rp 5,5 juta – Rp 6 juta saat ini berkisar antara Rp 7 juta – Rp 8 juta tergantung kualitasnya,” jelas Siswanto. (Wheny Marissa)















