berita2.com ( Wonogiri, Jawa Tengah ): Dunia pendidikan di tanah air hingga dewasa ini ternyata tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hal ini disebabkan kurangnya kesadaran terhadap arti penting persiapan, pelaksanaan, maupun evaluasi pendidikan yang dilakoni oleh elemen keluarga, sekolah, serta masyarakat.
“Terutama di elemen keluarga yang disadari ataupun tidak sampai saat ini masih kurang memperhatikan totalitas pendidikan bagi anak, ini berakibat buruk bagi proses pembelajaran di sekolah dan dalam masyarakat, “ demikian diungkapkan Melly Kiong penulis buku 'Best Seller' ( Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Dapat Mendidik Dengan Baik ) ketika menyampaikan materinya dalam acara Seminar Parenting Education yang dihelat kalangan PAUD ( Pendidikan Anak Usia Dini ) di GOR Giri Wahana Wonogiri Jawa Tengah Sabtu 19 Februari 2011.
Kurangnya kesadaran anggota keluarga dalam proses pendidikan ditandai dengan adanya rasa masa bodoh dan acuh. “ Kalau dalam bahasa jawa dikatakan sebagai Mongso Borong (terserah – red) yang intinya menganggap bahwa keluarga sudah menyerahkan segala sesuatu terkait pendidikan anak termasuk semua biaya ke sekolah, dan beranggapan kalau tanggungjawabnya mutalk milik sekolah.“
Padahal menurut Melly anggapan ini salah fatal. “ Pendidikan itu menyangkut ketiga elemen tadi, tidak bisa dipisahkan harus saling bersinergi, dan sebenarnya bisa dimulai dari sisi keluarga, karena jika keluarga sudah memberikan perhatian yang baik, otomatis nantinya proses di sekolah dan masyarakat semakin lancar “.
Sementara itu pemilik salah saat PAUD yang juga ketua penyelenggara acara sekaligus Ketua HIMPAUDI ( Himpunan PAUD Seluruh Indonesia ) Wonogiri Endang Susharyanti menyebut pemilihan Melly Kiong sebagai pembicara lantaran kapasitas dia yang memang mumpuni di bidang motivasi pendidikan anak. “
Dia adalah penggagas konsep Rumah Moral Indonesia, mahir dalam penyelarasan moral dan etika serta mental juang anak serta punya penitikberatan dalam pemberian solusi bagi permasalahan pendidikan, jadi tidak hanya menyelehkan saja, tapi juga punya langkah dan jalan keluarnya “. (ara)