Diskusi periodik berita2.com mencermati, akan timbul ekses politis lain setelah kasus Century. Sikap partai politik peserta koalisi dalam voting di sidang paripurna, setidaknya meninggalkan ‘luka’ bagi partai yang berkuasa. Akibatnya, 2 hal yang dapat dan mungkin dilakukan oleh mereka yang ‘terluka’ adalah di depan akan memelihara harmonisasi guna menjaga kekuatan di parlemen, tetapi di belakang boleh jadi akan mengelola dan menggunakan isyu-isyu yang sangat sensitif dan strategis untuk memukul balik.
Adapun isyu yang sangat sensitif saat ini adalah terorisme. Adalah fakta, bahwa terorisme, kini menjadi ‘musuh bersama’ dunia dan sangat dibenci . Isyu sensitif ini pula yang men-justifikasi apapun tindakan ‘polisi’ dunia (Amerika Serikat) terhadap negara lain. Isyu yang sama mungkin digunakan oleh parpol berkuasa (secara tidak langsung) untuk menghantam salah satu lawan politiknya.
Isyu semacam ini boleh jadi senjata baru yang akan merusak opini publik terhadap partai yang memiliki ideologi dan pencitraan Islam. Flatform tersebut celakanya memang sangat ‘dekat’ dengan isyu terorisme, yang mungkin akan dikelola secara permanen sepanjang rezim berkuasa.
Ketika SBY tidak lagi bersedia dicalonkan lagi 2014, tentu daya tarik partainya tidak sekuat sebelumnya, untuk itu, aparat partai harus bekerja keras. Salah satu cara yang sangat mungkin dilakukan adalah mulai mengelola isyu-isyu tersebut. Sementara isyu pajak, kecurangan bisnis, korupsi, pelecehan seksual serta isyu-isyu serupa akan digunakan secara insidentil dan situasional khusus bagi partai sekuler.
Penangkapan pihak berwajib terhadap mereka yang diidentifikasi terorisme, sangat besar kemungikinan akan dilkaitkan, atau pun ternyata memang terkait dengan partai terntu. Indikasi tersebut sesungguhnya sudah mulai muncul setahun yang lalu, namun media tidak sempat meramaikan karena suasana politis tidak sepanas saat kasus Century digulirkan.
Kuatnya ideologi Islam dalam berbagai literature dapat berbentuk ‘ancaman’ bagi pihak lain baik secara politis maupun idologis. Apalagi bila perkembangan suara dari masa ke masa partai yang mengusung idologi ini menunjukkan kecendrungan naik secara signifikan.
Belajar dari fakta sejarah, bahwa orde baru berkuasa selama 30 tahun secara konsisten membangun dan mengelola isyu tunggal, yakni Partai Komunias Indonesia (PKI). PKI telah menjadi momok yang sangat menakutkan bagi siapa saja terutama lawan politiknya sepanjang ode baru berkuasa.
Kebencian pada partai komunis telah ditanamkan bahkan sejak anak usia sekolah melalui pelajaran-pelajaran wajib tentang kekejaman PKI dan Hari Kesaksian Pancasila, film-film dokumenter serta penataran P-4, adalah tontotan dan pendidikan wajib bagi semua lapisan dan golongan.
Sepanjang orde baru berkuasa dengan sangat sempurna mengelola isyu tersebut dengan dukungan penuh instrument aparat negara. Walau tidak persis sama dengan apa yang terjadi di masa orde baru, setidaknya tujuan akan lebih efektif dan efisien dengan membangun dan mengelola mengelola isyu tersebut. (MG)