Kasus dana talangan (bailout) Bank Century yang dinilai bermasalah belum berpengaruh negatif terhadap rupiah bahkan mata uang itu menguat mendekati angka Rp9.250 per dolar, karena berbagai faktor dari eksternal sangat mendukungnya.
Sidang Paripurna DPR pada hari pertama yang menimbulkan kericuhan sempat menimbulkan kekhawatiran pelaku pasar akan terjadi aksi demo besar-besaran oleh para mahasiswa maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang akan berdampak negatif terhadap pergerakan nilai tukar rupiah.
Kericuhan yang terjadi di DPR memang sedikit banyak ada pengaruhnya terhadap rupiah tapi tidak besar.Mata uang Indonesia yang sempat terkoreksi kembali menguat bahkan sempat berada di level Rp9.250 per dolar.
Hal ini didukung oleh makin membaiknya indikator ekonomi makro Indonesia, setelah Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa laju inflasi Februari 2010 lebih baik ketimbang bulan sebelumnya.
Selain itu juga dipicu oleh faktor positif dari pasar eksternal seperti dolar AS yang melemah terhadap euro dan yen dan membaiknya saham-saham AS memicu bursa regional meningkat, serta indikator ekonomi AS yang membaik seperti berkurangnya klaim pengangguran AS.
Pelaku pasar lebih cenderung memperhatikan isu dari luar ketimbang dalam, meski kondisi politik di dalam negeri lagi menghangat akibat kasus dana talangan Bank Century.
Rally rupiah yang baru berjalan dua hari itu terganggu oleh ricuhnya sidang paripurna DPR yang membahas masalah dana talangan Bank Century yang semula diperkirakan hanya berlangsung dalam satu hari berlanjut dua hari dengan keputusan soal dana talangan Bank Century dinilai tidak benar.
Hingga dua hari berikutnya , rupiah terkoreksi mendekati angka Rp9.300 per dolar, namun membaiknya bursa regional berkat menguatnya saham-saham AS dan berkurangnya kekhawatiran krisis utang Yunani memicu rupiah kembali menguat mendekati level Rp9.300 per dolar.
Pelaku pasar semula memperkirakan rupiah akan akan terpuruk apabila keputusan sidang Paripurna DPR itu diluar dari perkiraan yang akan membuat Bank Indonesia (BI) mengeluarkan cadangan dolarnya untuk dilepas guna menahan laju merosotnya rupiah lebih jauh.
Pelaku pasar sampai saat ini juga masih hati-hati untuk masuk ke pasar, mereka menunggu kelanjutan dari keputusan sidang Paripurna DPR mengenai keputusan itu apa akan dibawa ke pengadilan atau tidak.
Jadi indikator ekonom makro Indonesia yang positif memberikan kepastian kepada investor bahwa ekonomi nasional tetap tumbuh sekalipun ada krikil yang mengganggu pertumbuhan tersebut.
Pengamat pasar uang, Farial Anwar mengatakan, membaiknya kurs rupiah terhadap dolar, karena indikator ekonomi Indonesia yang cukup baik dan Bank Indonesia (BI) yang diperkirakan akan tetap mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) pada level 6,5 persen.
BI diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuannya untuk menjaga rupiah agar tetap berada dibawah angka Rp9.300 per dolar, ucapnya.
Posisi rupiah dibawah angka Rp9.300 per dolar, menurut dia dinilai sangat baik, karena berada dibawah target pemerintah yang menetapkan kurs rupiah pada kisaran Rp9.300 sampai Rp9.500 per dolar.
Kenaikan rupiah itu juga terpicu oleh melemahnya dolar terhadap mata uang utama Asia terutama terhadap euro dan yen. Kenaikan yen sebenarnya kurang disukai para eksportir Jepang, karena produk jualnya di pasar ekspor kurang kompetitip, tuturnya.
Farial Anwar yang juga Direktur Currency Management Group mengatakan, rupiah yang sempat mencapai Rp9.250 per dolar mulai terkoreksi, setelah DPR melaksanakan sidang paripurna membahas masalah dana talangan Bank Century sebesar Rp6,7 triliun.
Akibatnya rupiah kembali terpuruk mendekati angka Rp9.300 per dolar, namun koreksi harga terhadap rupiah tidak besar yang menunjukkan kecilnya pengaruh putusan DPR terhadap rupiah, ucapnya.
Pelaku asing, lanjut diperkirakan sudah mempersiapkan diri untuk mengalihkan dananya di pasar domestik. Namun kenyataannya mereka masih berada di pasar untuk mengetahui dan melihat kelanjutan keputusan DPR itu.
"Kami optimis pelaku masih tetap menginvestasikan dananya di pasar, karena Indonesia dinilai masih dapat memberikan keuntungan yang lebih baik ketimbang negara Asia lainnya," ucapnya.
Kedepan, menurut dia, pasar saham dan pasar uang diperkirakan akan semakin ramai, karena pemerintah akan meminta perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit untuk memicu ekonomi nasional tumbuh lebih cepat.
Pemerintah sangat membutuhkan mitra perbankan mendukung pembangunan di dalam negeri agar dapat mendorong sektor riil bisa berjalan dengan baik yang selama dinilai hanya berjalan ditempat, katanya.
Dampaknya kecil
Sementara itu, pengamat pasar uang lainnya, Edwin Sinaga mengatakan, pelaku pasar menahan diri semula hanya menahan diri mengurangi kegiatan, melihat sidang paripurna pada hari pertama berlangsung ricuh mengakibatkan para mahasiswa menjadi marah sehingga menimbulkan kekhawatiran situasi politik di dalam negeri makin tidak terkendali.
Namun dampak negatif dari sidang Paripurna terhadap pasar uang khususnya rupiah relatif masih kecil, katanya.
Dalam kondisi ini, menurut dia rupiah masih berada dilevel Rp9.275 per dolar yang menunjukkan posisinya masih stabil sehingga peluang untuk kembali naik sangat besar.
Pelaku pasar juga menunggu data tenaga kerja AS yang keluar pada akhir pekan ini yang diperkirakan akan lebih baik dibanding sebelumnya. Apabila tenaga kerja AS membaik, maka akan menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi AS masih tumbuh, ucapnya.
Edwin Sinaga yang juga Dirut Finan Corpindo Nusa mengatakan, pelaku pasar menahan diri mereka masih berada di luar pasar mengikuti perkembangan lebih lanjut mengenai masalah Bank Century.
Menurut dia, posisi rupiah saat ini cukup bagus yang menunjukkan pelaku pasar masih berada di pasar, meski mereka saat ini agak hati-hati menempatkan dananya di pasar domestik.
"Kami memperkirakan rupiah akan dapat bergerak naik lagi, karena sidang paripurna DPR telah memutuskan kasus dana talangan Bank Century adalah bermasalah," katanya.
Rupiah, lanjut dia masih dapat bergerak naik lagi dan akan kembali pada level Rp9.250 per dolar yang pernah dicapai beberapa hari lalu.
Pembelian rupiah oleh pelaku pasar, karena mata uang Indonesia pada pekan lalu terkoreksi akibat kekhawatiran pelaku pasar terhadap masalah Bank Century yang masih tidak menentu, kata Head Equity Sales PT Panin Capital, Ifan Kurniawan.
Pembelian itu juga didukung oleh membaiknya bursa regional. Rupiah pekan lalu terpuruk hingga mendekati Rp9.400 per dolar, namun kemudian kembali membaik hingga bertengger di level Rp9.320 per dolar.
Kasus Bank Century dinilai belum ada kepastian, meski sejumlah partai menyebut nama Wakil Presiden Boediono selaku mantan gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan Sri Mulyani sebagai pihak-pihak yang bertanggung jawab.
"Kami optimis rupiah masih tetap dalam kisaran tersebut yang membuat pelaku pasar baik eksportir maupun importir masih dapat melaksanakan kegiatan, " ucapnya.
Ditanya The Fed yang mempertahankan suku bunga rendah, menurut dia, faktor tersebut membuat rupiah menguat, karena dolar AS di pasar regional melemah terhadap mata uang utama Asia lainnya.
Isu positif belum mengangkat rupiah naik tajam, karena pelaku pasar masih hati-hati dengan kondisi politik di dalam negeri dan mereka menunggu DPR mengenai keputusannya apa akan dibawa ke Pengadilan atau tidak.
Karena itu faktor positif yang muncul dari pasar eksternal belum mendorong pelaku pasar aktif membeli rupiah, mereka bahkan melepas dengan membeli dolar, ujarnya.
The Fed sebelumnya menaikkan suku bunga diskonto 25 basis poin menjadi 0,75 persen, yang menekan rupiah merosot jauh di atas Rp9.300 per dolar. (Oleh : Cecep Syaifudin)