berita2.com (New York): New York adalah negara bagian yang berpenduduk nomor tiga terbesar di Amerika. Penduduknya berasal dari berbagai latar belakang etnis, budaya, dan agama, termasuk Islam. Ada hampir satu juta muslim dan lebih dari 200 masjid di sini.
Namun kontroversi yang muncul baru-baru ini mengenai rencana pembangunan masjid dan pusat budaya Islam di dekat Ground Zero, menunjukkan ketidaktahuan masyarakat non-Muslim akan Islam masih tinggi.
Hal itu mendorong para tokoh Islam di New York untuk melakukan kegiatan siar yang ditujukan kepada non-Muslim agar mereka lebih memahami Islam. Shamsi Ali, seorang tokoh komunitas Islam Indonesia di New York, menilai bulan Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk melakukannya. Salah satu kegiatan yang ia lakukan adalah memberikan sosialisasi mengenai bulan Ramadhan kepada polisi New York, NYPD.
“Kita memberi pelatihan tentang apa yang harus mereka ketahui, ketika memasuki bulan Ramadhan. Sehingga ketika mereka berinteraksi dengan komunitas Islam, mereka secara kultur sudah sensitif,” jelas Shamsi.
Ia memberikan contoh, misalnya apa yang harus dilakukan ketika masuk masjid. Juga, jika tidak melihat perempuan di masjid, bukan berarti tidak ada perempuan di sana, tetapi mungkin itu karena tempat bagi perempuan dan laki-laki memang dipisah, seperti tradisi dianut oleh masyarakat dari Asia Selatan.
Tentang buka puasa, kata Shamsi, ”Kalau misalnya mereka ke masjid kemudian ditawari buka puasa, apakah kemudian itu dianggap tidak benar? Apakah itu merupakan bagian dari kultur Islam yang selalu ramah?”
Selain itu, menurut Shamsi, masih ada lagi sejumlah pertanyaan yang mereka lontarkan. Misalnya, ujar Shamsi, " 'Apakah tidak ada reaksi-reaksi yang negatif pada bulan Ramadhan?' 'Bagaimana dengan anak-anak muda dalam menjalankan ibadah puasa?' Jadi, ada semacam dialog tentang hal-hal yang perlu diketahui masing-masing pihak."
Kegiatan iftar atau buka puasa bersama di masjid-masjid juga digalakkan. Salah satunya di Masjid komunitas Indonesia, Al-Hikmah. Shamsi Ali yang merupakan Ketua Dewan Pengurus Masjid tersebut menjelaskan tahun ini Al-Hikmah mengadakan open house. ”Pada saat buka puasa, akan kita peruntukkan satu hari khusus untuk mengundang teman-teman Non-Muslim di sekitar masjid agar mereka bisa datang untuk menikmati buka puasa bersama. Sekaligus, berkenalan dengan komunitas kita, " kata Shamsi.
"Alhamdulillah," ujar Shamsi, "masjid Al-Hikmah, masjid orang Indonesia ini, dikenal ramah dan inklusif, terbuka bagi semua komunitas."
Tidak hanya di masjid, acara berbuka puasa bersama dengan non-Muslim juga diadakan di kantor-kantor pemerintahan.
“Misalnya di kantor dinas walikota New York, setiap tahun kita lakukan buka puasa bersama dengan walikota, demikian juga di kantor-kantor kecamatan, apakah di Manhattan, Queens, Bronx, Staten Island, Brooklyn, tahun ini semuanya melakukan buka puasa bersama dengan pegawai camat dan Alhamdulillah ada kesempatakan untuk memberikan pembelajaran tentang agama Islam,” kata Shamsi.
Ia juga menjelaskan, acara di Queens pada akhir bulan Agustus ini menurut rencana akan dihadiri oleh walikota New York dan kebetulan Shamsi diminta untuk memberikan ceramah singkat tentang Islam.
Fitri Mohan, seorang warga Indonesia yang tinggal di New York, menyambut baik aktivitas Ramadhan yang terbuka bagi semua komunitas.
“Kita ada di sebuah tempat di mana ‘Oh, ternyata Islam ada di mana-mana.' Sangat global, sangat universal dan itu membuat rasa kebersamaan kita sebagai warga Indonesia tidak sempit. Tapi, ini bersama dengan seluruh orang-orang dari Lebanon, Turki, bahkan orang Amerika sendiri. Ada perasaan seperti ukhuwah islamiyah yang secara internasional, sangat erat dan sangat mengharukan,“ ungkap Fitri.
Artikel
Tokoh Islam Indonesia, Sosialisasi Ramadhan ke Polisi New York
Saat Ini Indonesia dalam Jajahan Negara Tetangga
berita2.com (Jakarta): Anggota Fraksi Partai Golkar di Komisi I DPR RI, Fayakhun Andriadi mengatakan, penjajahan pihak Singapura atas teknologi informasi (TI) Indonesia benar-benar sangat menyakitkan, karena sepertinya kita enggan keluar dari tekanan itu.
"Jelas sekali, kedaulatan kita pada ranah `cyber` atau TI secara keseluruhan benar-benar porak poranda, dan ini butuh atensi serius sejumlah kementerian serta perguruan tinggi," katanya di Jakarta.
Situasi ini, menurutnya, semakin diperparah oleh penguasaan Negarai Republik Indonesia atas satelit yang sekarang berada di bawah perusahaan Indosat.
"Dan kita tahu bersama, siapa pemilih mayoritas (sahamnya) Indosat itu kan? Bukan lagi negara kita tokh? Saham mayoritasnya kini milik negara lain," ungkapnya.
Padahal, demikian Fayakhun Andriadi, hak orbit satelit merupakan milik suatu negara, bukan `corporate`. "Ini bahaya dan sangat serius dampaknya bagi kita, masa depan bangsa. Celaka kita jika semua urusan TI dikendalikan dari luar (Singapura), karena mereka yang menguasai saham perusahaan yang mengoperasikan satelit yang dibikin atasnama negara kita itu," tandasnya.
Untuk mengatasi begitu lemahnya RI dalam penguasaan TI, dan malah terkesan didikte pihak asing, Fayakhun Andriadi bersama fraksinya menawarkan.pembuatan `internet exchange` sendiri.
"Yaitu `internet exchange` yang tidak melewati negera persemakmuran, yakni di Utara dengan Singapura, dan Selatan dengan Australia, lalu ke timur Laut ke Taiwan, dan ke Barat Laut dengan India," katanya.
Dengan begitu, menurutnya, satu informasi rahasia yang utuh, dapat dipecah ke empat jurusan.
"Dalam hal ini, Pemerintah RI mestinya menegakkan kedaulatan `cyber` di wilayah republik," tegas Fayakhun Andriadi lagi.
Sebab, kenyataannya sekarang, ia menilai, Republik Indonesia sebagai Negara Berdaulat, ternyata harus tunduk kepada pihak lain dalam kedaulatan di bidang `cyber` atau teknologi informasi (TI).
"Saya sependepat, bahwa saat ini RI sebagai Negara Berdaulat, ternyata tidak berdaulat di ranah `cyber` yang digunakan oleh anak bangsa sendiri," katanya.
Ia mengatkan itu, merespons pernyataan seorang pakar IT alumni sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia pada sebuah diskusi terbatas di Jakarta, akhir pekan lalu, yang mengungkapkan, RI benar-benar semakin didikte Singapura dan Malaysia dalam hal telekomunikasi di samping perbankan.
Sebagaimana berkembang dalam diskusi terbatas itu, khusus dalam soal IT, kita hanya jadi ladang empuk mengais dolar dan ringgit oleh dua negeri `jiran` tersebut.
Ini karena semua operator seluler dan internet berbasis di dua negeri jiran ini.
Akibatnya, tiap `voucher` pulsa apa saja, juga setiap kali satu WNI buka internet (`browse`), langsung kena `charge` yang terhisap otomatis ke sana.
"Artinya, mereka gemuk oleh kebodohan kita. Satu hal lagi, dengan keadaan seperti sekarang, maka informasi apa pun termasuk RAHASIA NEGARA (RHN) jadi telanjang di mata negeri `peanut` Singapura," ujar Benni TBN, pakar IT yang menjadi salah satu pembicara dalam diskusi tersebut.
Dalam kaitan itulah, demikian Fayakhun Andriadi, Fraksi Partai Golkar (FPG) mendesak Menteri Negara Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), agar mampu berdaya upaya menegakkan kedaulatan bangsa Indonesia di ranah `cyber` milik bangsa sendiri.
"Ranah `cyber` yang dimaksud, tidak hanya meliputi `voice`, namun juga data dan data khusus. Jika tidak, tidak ada Rahasia Negara (RHN) yang tidak `telanjang` keluar," ujarnya.
Sebelumnya, rekannya sesama anggota FPG, Paskalis Kossay secara terpisah mengkhawatirkan adanya dugaan RHN itu bocor ke luar via Singapura.
"Kita memang sudah ketinggalan dalam hal kemajuan dan penguasaan teknologi untuk berbagai aspek, utamanya di sektor teknologi informasi (TI). Kekhawatiran ini terus memuncak, apalagi banyak operator seluler dan internet kita memang dikendalikan dari dua negara itu," ujar anggota Komisi I DPR RI(bidang Luar Negeri, Pertahanan Keamanan, Intelijen, Komunikasi dan Informatika) ini.
Berbicara melalui hubungan telefon dari Jayapura (sedang menjalankan masa reses dengan mengunjungi konstituen di daerah pemilihan), mantan Wakil Ketua DPRD Papua ini juga mengakui, banyak pihak yang sepertinya belum menyadari urgennya menguasai TI, terutama terkait dengan urusan RHN, maupun bisnis bernilai miliaran dolar.
"Saya kaget juga dengan info dari sebuah diskusi di Jakarta, bahwa seorang pakar IT yang alumni sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia mengungkapkan, bahwa RI benar-benar semakin didikte Singapura dan Malaysia dalam hal telekomunikasi di samping perbankan," ungkapnya.
Sementara itu, dalam diskusi terbatas akhir pekan lalu, Benny TBN juga mengungkapkan, saat ini nyatanya lalulintas jaring optik kita dikendalikan oleh `traffic administrator` di Singapura.
"Karenanya semua jaringan internet dan seluler harus ditarik atau `dipaksa` melewati `persimpulan utama` di kota itu. Makanya, apalagi `RHN` yang tak mereka tahu? Sialnya lagi, satelit Indosat (dulu Palapa) jadi mayoritas milik Temasek (sebuah BUMN Singapura)," ungkapnya lagi.
Akibatnya, lanjutnya, selain kita jadi seperti `telanjang` dalam informasi apa pun, juga RI cuma berfungsi sebagai pelanggan seluler.
"Posisi ini jauh di bawah fungsi distributor seluler. Jadi, kita cuma `outlet`, tukang jual produk IT mereka. Dan yang jelas, banyak perusahaan `provider` kita cuma nama `doang perusahaannya itu milik RI dengan mayoritas saham dikuasai mereka," ujarnya.
Merespons situasi serius ini, Paskalis Kossay mendesak para pihak berkompeten untuk segera melakukan tindakan konkret.
"Kita jangan cuma cuma sibuk urus video porno dan konten TI, lalu tidak berjuang agar semua operator berbasis di sini. Mohon ini digumuli dan jadi atensi serius," tegasnya.
Ia mengatakan, argumentasi para pakar TI itu terkesan bukan main-main, dan tidak berangkat dari argumentasi emosional, tetapi sangat rasional.
"Demi martabat dan kedaulatan NKRI, perlu segera tindakan konkret dan perbaikan ke depan secara bersama. Kami di Komisi I DPR RI tentu akan melaksanakan fungsi kewenangan kami sesuai aturan konstitusi," tandasnya.
Salah satunya, menurut Paskalis Kossay, akan mengagendakan rapat dengan menghadirkan para pakar TI untuk mendapatkan info teranyar serta `academics;, sekaligus merumuskan langkah-langkah konkret terbaik bagi kepentingan Negara. (antaranews.com)
Siapa Sebenarnya Nyi Roro Kidul?
Percayakah Anda dengan cerita tentang Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan? Sebagian dari Anda mungkin akan berkata TIDAK. Tapi coba tanyakan kepada mereka yang hidup dalam zaman atau lingkungan Keraton Yogyakarta. Mereka yakin dengan kebenaran cerita ini.
Di suatu masa, hiduplah seorang putri cantik bernama Kadita. Karena kecantikannya, ia pun dipanggil Dewi Srengenge yang berarti matahari yang indah. Dewi Srengenge adalah anak dari Raja Munding Wangi. Meskipun sang raja mempunyai seorang putri yang cantik, ia selalu bersedih karena sebenarnya ia selalu berharap mempunyai anak laki-laki. Raja pun kemudian menikah dengan Dewi Mutiara, dan mendapatkan putra dari perkimpoian tersebut. Maka, bahagialah sang raja.
Dewi Mutiara ingin agar kelak putranya itu menjadi raja, dan ia pun berusaha agar keinginannya itu terwujud. Kemudian Dewi Mutiara datang menghadap raja, dan meminta agar sang raja menyuruh putrinya pergi dari istana. Sudah tentu raja menolak. “Sangat menggelikan. Saya tidak akan membiarkan siapapun yang ingin bertindak kasar pada putriku”, kata Raja Munding Wangi. Mendengar jawaban itu, Dewi Mutiara pun tersenyum dan berkata manis sampai raja tidak marah lagi kepadanya. Tapi walaupun demikian, dia tetap berniat mewujudkan keinginannya itu.
Pada pagi harinya, sebelum matahari terbit, Dewi Mutiara mengutus pembantunya untuk memanggil seorang dukun. Dia ingin sang dukun mengutuk Kadita, anak tirinya. “Aku ingin tubuhnya yang cantik penuh dengan kudis dan gatal-gatal. Bila engkau berhasil, maka aku akan memberikan suatu imbalan yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya.” Sang dukun menuruti perintah sang ratu. Pada malam harinya, tubuh Kadita telah dipenuhi dengan kudis dan gatal-gatal. Ketika dia terbangun, dia menyadari tubuhnya berbau busuk dan dipenuhi dengan bisul. Puteri yang cantik itu pun menangis dan tak tahu harus berbuat apa.
Ketika Raja mendengar kabar itu, beliau menjadi sangat sedih dan mengundang banyak tabib untuk menyembuhkan penyakit putrinya. Beliau sadar bahwa penyakit putrinya itu tidak wajar, seseorang pasti telah mengutuk atau mengguna-gunainya. Masalah pun menjadi semakin rumit ketika Ratu Dewi Mutiara memaksanya untuk mengusir puterinya. “Puterimu akan mendatangkan kesialan bagi seluruh negeri,” kata Dewi Mutiara. Karena Raja tidak menginginkan puterinya menjadi gunjingan di seluruh negeri, akhirnya beliau terpaksa menyetujui usul Ratu Mutiara untuk mengirim putrinya keluar dari negeri itu.
Puteri yang malang itu pun pergi sendirian, tanpa tahu kemana harus pergi. Dia hampir tidak dapat menangis lagi. Dia memang memiliki hati yang mulia. Dia tidak menyimpan dendam kepada ibu tirinya, malahan ia selalu meminta agar Tuhan mendampinginya dalam menanggung penderitaan.
Hampir tujuh hari dan tujuh malam dia berjalan sampai akhirnya tiba di Samudera Selatan. Dia memandang samudera itu. Airnya bersih dan jernih, tidak seperti samudera lainnya yang airnya biru atau hijau. Dia melompat ke dalam air dan berenang. Tiba-tiba, ketika air Samudera Selatan itu menyentuh kulitnya, mukjizat terjadi. Bisulnya lenyap dan tak ada tanda-tanda bahwa dia pernah kudisan atau gatal-gatal. Malahan, dia menjadi lebih cantik daripada sebelumnya. Bukan hanya itu, kini dia memiliki kuasa untuk memerintah seisi Samudera Selatan. Kini ia menjadi seorang peri yang disebut Nyi Roro Kidul atau Ratu Pantai Samudera Selatan yang hidup selamanya.
Kanjeng Ratu Kidul = Ratna Suwinda Tersebut dalam Babad Tanah Jawi (abad ke-19), seorang pangeran dari Kerajaan Pajajaran, Joko Suruh, bertemu dengan seorang pertapa yang memerintahkan agar dia menemukanKerajaan Majapahit di Jawa Timur. Karena sang pertapa adalah seorang wanita muda yang cantik, Joko Suruh pun jatuh cinta kepadanya. Tapi sang pertapa yang ternyata merupakan bibi dari Joko Suruh, bernama Ratna Suwida, menolak cintanya. Ketika muda, Ratna Suwida mengasingkan diri untuk bertapa di sebuah bukit. Kemudian ia pergi ke pantai selatan Jawa dan menjadi penguasa spiritual di sana. Ia berkata kepada pangeran, jika keturunan pangeran menjadi penguasa di kerajaan yang terletak di dekat Gunung Merapi, ia akan menikahi seluruh penguasa secara bergantian.
Generasi selanjutnya, Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram ke-2, mengasingkan diri ke Pantai Selatan, untuk mengumpulkan seluruh energinya, dalam upaya mempersiapkan kampanye militer melawan kerajaan utara. Meditasinya menarik perhatian Kanjeng Ratu Kidul dan dia berjanji untuk membantunya. Selama tiga hari dan tiga malam dia mempelajari rahasia perang dan pemerintahan, dan intrik-intrik cinta di istana bawah airnya, hingga akhirnya muncul dari Laut Parangkusumo, kini Yogyakarta Selatan. Sejak saat itu, Ratu Kidul dilaporkan berhubungan erat dengan keturunan Senopati yang berkuasa, dan sesajian dipersembahkan untuknya di tempat ini setiap tahun melalui perwakilan istana Solo dan Yogyakarta.
Begitulah dua buah kisah atau legenda mengenai Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan. Versi pertama diambil dari buku Cerita Rakyat dari Yogyakarta dan versi yang kedua terdapat dalamBabad Tanah Jawi. Kedua cerita tersebut memang berbeda, tapi Anda jangan bingung. Anda tidak perlu pusing memilih, mana dari keduanya yang paling benar.
Kanjeng Ratu Kidul dan Keraton Yogyakarta Percayakah Anda dengan cerita tentang Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan? Sebagian dari Anda mungkin akan berkata TIDAK. Tapi coba tanyakan kepada mereka yang hidup dalam zaman atau lingkungan Keraton Yogyakarta. Mereka yakin dengan kebenaran cerita ini. Kebenaran akan cerita Kanjeng Ratu Kidul memang masih tetap menjadi polemik. Tapi terlepas dari polemik tersebut, ada sebuah fenomena yang nyata, bahwa mitos Ratu Kidul memang memiliki relevansi dengan eksistensi Keraton Yogyakarta. Hubungan antara Kanjeng Ratu Kidul dengan Keraton Yogyakartapaling tidak tercantum dalam Babad Tanah Jawi (cerita tentang kanjeng Ratu Kidul di atas, versi kedua). Hubungan seperti apa yang terjalin di antara keduanya?
Y. Argo Twikromo dalam bukunya berjudul Ratu Kidul menyebutkan bahwa masyarakat adalah sebuah komunitas tradisi yang mementingkan keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan hidup. Karena hidup ini tidak terlepas dari lingkungan alam sekitar, maka memfungsikan dan memaknai lingkungan alam sangat penting dilakukan.
Sebagai sebuah hubungan komunikasi timbal balik dengan lingkungan yang menurut masyarakat Jawa mempunyai kekuatan yang lebih kuat, masih menurut Twikromo, maka penggunaan simbol pun sering diaktualisasikan. Jika dihubungkan dengan makhluk halus, maka Javanisme mengenal penguasa makhluk halus seperti penguasa Gunung Merapi, penguasa Gunung Lawu, Kayangan, dan Laut Selatan. Penguasa Laut Selataninilah yang oleh orang Jawa disebut Kanjeng Ratu Kidul. Keempat penguasa tersebut mengitari Kesultanan Yogyakarta. Dan untuk mencapai keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan dalam masyarakat, maka raja harus mengadakan komunikasi dengan “makhluk-makhluk halus” tersebut.
Menurut Twikromo, bagi raja Jawa berkomunikasi dengan Ratu Kidul adalah sebagai salah satu kekuatan batin dalam mengelola negara. Sebagai kekuatan datan kasat mata (tak terlihat oleh mata), Kanjeng Ratu Kidul harus dimintai restu dalam kegiatan sehari-hari untuk mendapatkan keselamatan dan ketenteraman.
Kepercayaan terhadap Ratu Kidul ini diaktualisasikan dengan baik. Pada kegiatan labuhan misalnya, sebuah upacara tradisional keraton yang dilaksanakan di tepi laut di selatan Yogyakarta, yang diadakan tiap ulang tahunSri Sultan Hamengkubuwono, menurut perhitungan tahun Saka (tahun Jawa). Upacara ini bertujuan untuk kesejahteraan sultan dan masyarakat Yogyakarta.
Kepercayaan terhadap Kanjeng Ratu Kidul juga diwujudkan lewat tari Bedaya Lambangsari dan Bedaya Semangyang diselenggarakan untuk menghormati serta memperingati Sang Ratu. Bukti lainnya adalah dengan didirikannya sebuah bangunan di Komplek Taman Sari (Istana di Bawah Air), sekitar 1 km sebelah barat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dinamakan Sumur Gumuling. Tempat ini diyakini sebagai tempat pertemuan sultan dengan Ratu Pantai Selatan, Kanjeng Ratu Kidul.
Penghayatan mitos Kanjeng Ratu Kidul tersebut tidak hanya diyakini dan dilaksanakan oleh pihak keraton saja, tapi juga oleh masyarakat pada umumnya di wilayah kesultanan. Salah satu buktinya adalah adanya kepercayaan bahwa jika orang hilang di Pantai Parangtritis, maka orang tersebut hilang karena “diambil” oleh sang Ratu.
Selain Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, mitos Kanjeng Ratu Kidul juga diyakini oleh saudara mereka, Keraton Surakarta Hadiningrat. Dalam Babad Tanah Jawi memang disebutkan bahwa Kanjeng Ratu Kidul pernah berjanji kepada Panembahan Senopati, penguasa pertama Kerajaan Mataram, untuk menjaga Kerajaan Mataram, para sultan, keluarga kerajaan, dan masyarakat dari malapetaka. Dan karena kedua keraton (Yogyakarta dan Surakarta)memiliki leluhur yang sama (Kerajaan Mataram), maka seperti halnya Keraton Yogyakarta, Keraton Surakarta juga melaksanakan berbagai bentuk penghayatan mereka kepada Kanjeng Ratu Kidul. Salah satunya adalah pementasan tari yang paling sakral di keraton, Bedoyo Ketawang, yang diselenggarakan setahun sekali pada saat peringatan hari penobatan para raja. Sembilan orang penari yang mengenakan pakaian tradisional pengantin Jawa mengundang Ratu Kidul untuk datang dan menikahi susuhunan, dan kabarnya sang Ratu kemudian secara gaib muncul dalam wujud penari kesepuluh yang nampak berkilauan.
Kepercayaan terhadap Ratu Kidul ternyata juga meluas sampai ke daerah Jawa Barat. Anda pasti pernah mendengar, bahwa ada sebuah kamar khusus (nomor 308) di lantai atas Samudera Beach Hotel, Pelabuhan Ratu, yang disajikan khusus untuk Ratu Kidul. Siapapun yang ingin bertemu dengan sang Ratu, bisa masuk ke ruangan ini, tapi harus melalui seorang perantara yang menyajikan persembahan buat sang Ratu. Pengkhususan kamar ini adalah salah satu simbol ‘gaib’ yang dipakai oleh mantan presiden Soekarno.
Sampai sekarang, di masa yang sangat modern ini, legenda Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan, adalah legenda yang paling spektakuler. Bahkan ketika anda membaca kisah ini, banyak orang dari Indonesia atau negara lain mengakui bahwa mereka telah bertemu ratu peri yang cantik mengenakan pakaian tradisional Jawa. Salah satu orang yang dikabarkan juga pernah menyaksikan secara langsung wujud sang Ratu adalah sang maestro pelukis Indonesia, (almarhum) Affandi. Pengalamannya itu kemudian ia tuangkan dalam sebuah lukisan. (tulisan kiriman seseorang)
Mengapa Orang Berjuang Untuk Bisa Mencium Hajar Aswad?
berita2.com: Lantai tiga Masjidil Haram, ba'da (setelah) Isya. Pusaran manusia mengelilingi Ka'bah. Kotak segi empat berselimut qiswah hitam dengan aksara Arab berbenang emas, melingkar, dekat puncaknya.
Makhluk terbaik dari semua penjuru dunia, yang tercantik dan yang tertampan, berkulit putih seperti susu, kemerah-merahan, kuning, cokelat, atau hitam, berkumpul di sini. Wajah mereka bercahaya karena tersapu air wudhu lima kali sehari semalam.
Tidak hanya yang terbaik, yang tua renta dan harus dipapah di kursi roda, bayi munggil, yang kuat dan gagah hingga yang lemah juga bertawaf di sini.
Sebagian mereka berpakaian putih. Mereka yang berumroh hanya mengenakan dua lembar kain putih tanpa jahitan, dililitkan di pinggang dan melintang di dada. Kaum perempuan menutup kepala, tubuh, kedua tangan hingga ke kaki.
Lantunan doa dipanjatkan, baik yang di verbalkan maupun rintihan tersembunyi di lubuk hati, di dada setiap jemaah. Ritual tawaf tak pernah henti, siang dan malam, panas dan dingin, seperti tawafnya planet pada bintangnya, galaksi pada semestanya, ion pada protonnya, berputar melawan arah jarum jam.
Jelang akhiir Juni, suhu mencapai 43 derajat, angin bertiup kencang menyayat kulit, memdihkan matah, tetapi langkah jemaah pada saat azan tiba tetap dan tanpa ragu, menembus cuaca yang tak bersahabat, memenuhi panggilan Allah shalat lima waktu dan tinggalkan urusan dunia.
Pusaran tawaf itu monoton adanya, namun pada sudut tertentu, di sudut hajar aswad (batu hitam) dekat Pintu Ka'bah terlihat sedikit kekacauan. Sejumlah jemaah berjuang untuk menciumnya.
Laki, perempuan, tua muda, sehat atau cacad, ingin mencium, atau minimal menjamahnya. Seorang askar berbaju cokelat kehijauan, berbaret hitam mencoba mengaturnya. Tangan kirinya memegang tali kain yang dikaitkan ke diding Ka'bah, tangan kan menghalau jemaah lain agar tak berlama-lama mencium sang batu hitam.
Pekerjaan yang melelahkan sebenarnya. Antrian sejajar sisi Ka'bah tak selalu sebaris. Dia bisa jadi dua hingga tiga. Mereka yang antri bisa dikategorikan sebagai orang sabar karena menanti dalam antrian. Tapi kesabaran tak selalu berbuah kemenangan. Setiap saat selalu ada yang tak sabar. Memotong antrian, mendesak, tak peduli pada perasaan. Kalimat, "sabar, ya al haj atau hajjah," berlalu seperti angin gurun.
Dalam kondisi begini, yang lemah, tua, anak-anak, cacat tak bisa berbuat apa-apa. Hajar aswad adalah batu hitam yang sempat dipertengkarkan kaum Quraisy jahiliyah. Mereka berebut, dan menyatakan sukunyalah yang paling berhak menempelkannya di sudut Ka'bah.
Sebelum pertengkaran itu memuncak, mereka bersepakat untuk menyerahkan urusan itu pada seseorang yang dapat dipercaya. Dia adalah Muhammad. Saat itu kaum Quraisy memilih Muhammad muda karena dia dapat dipercaya. Dia bergelar Al Amin di masa, artinya orang yang dapat dipercaya.
Muhammad meletakkan batu di selembar kain, dan setiap kabilah (suku) diminta memegang ujungnya, lalu secara bersamaan ditempelkan batu hitam itu di sudut Ka'bah. Lalu mengapa setiap kaum muslimin ingin menciumnya? Umar bin Chatab RA, sahabat Nabi Muhammad SAW, yang juga pemimpin Islam setelah Abu Bakar Asshidiq RA pernah mengatakan, dirinya mencium batu itu karena Nabi Muhammad SAW menciumnya.
Umar agaknya menggunakan logika. Sebuah batu tak lebih dari sekadar batu, sehingga tak layak untuk dicium setiap manusia. Namun sebagai pengikut setia dan selalu melakukan apa yang dicontohkan Nabi, maka dia menciumnya juga. Meski Nabi mencium Hajar Aswad, tetapi kegiatan itu tidak dimasukkan ke dalam rukun haji atau umroh.
Kini 14 abad kemudian, ketika Masjidi Haram banyak berubah, lebih luas dan modern, mencium hajar aswad ternyata tidak mudah bagi jemaah biasa.
Mantan Wakil Presiden Megawati (saat itu belum jadi Presiden) ketika Umroh pernah mendapat keistimewaan dalam mencium Hajar Aswad. Setelah tawaf tujuh kali, askar (para penjaga) membuat batas, memisahkan jemaah biasa yang sedang bertawaf dan rombongan Wakil Presiden RI.
Lokasi di depan Hajar Aswad dibersihkan dari jemaah biasa, lalu dengan leluasa Megawati dan rombongan mencium batu hitam yang diikat semacam tembaga putih itu. Sesungguhnya, askar dengan mudah mengatur agar tercipta antrian yang tertib sehingga yang lemah, perempuan, yang cacad dan anak-anak berkesempatan mencium hajar aswad.
Caranya, membuat dua jalur antrian yang sejajar di sisi Ka'bah. Satu untuk pria, satu lagi untuk perempuan, anak-anak dan jemaah berkursi roda. Berbicara tetang kemampuan untuk mengatur ini, sebenarnya sudah terlihat pada hal yang sederhana hingga paling rumit di Masjidil Haram. Misalnya dalam mengatur agar air Zam-zam tetap terisi di tong-tong cokelat lalu meletakkanya di tempat-tempat yang mudah di jangkau di seputaran masjid itu.
Jemaah yang haus --kondisi ini sering mendera saat suhu mencapai 45 derajat di akhir Juni ini-- dapat melepas dahaganya. Kemampuan itu juga terlihat pada cara praktis, cepat singkat dalam membersihkan lantai masjid di saat jemaah berlalu lalang. Atau, lihatlah, bagaimana pemerintah Saudi Arabia mengelola 3 juta anggota jemaah haji setiap tahunnya, melayani dan memastikan mereka beribadah sebagaimana mestinya.
Malam ini, sekuen dari perjuangan mencium Hajar Aswad terulang lagi. Di sisi dinding Ka'bah sudah tensusun antrian, tiga meter menjelang target, antrian menjadi dua baris, seorang kakek menyisip dalam antrian pertama. Dua meter menjelang target antrian semakin rapat. Hajar aswad dikepung dari semua penjurunya. Dorong mendorong mulai terjadi.
Di sisi luar, seorang pemuda tampan mencoba antri di kursi roda elektriknya. Satu meter jelang Hajar Aswad dorong mendorong semakin kuat. Dada semakin sesak terhimpit badan dengan badan. Dari sisi paling luar serombongan pemuda tegap berpakaian ihram datang mendesak dengan lafal lailahailllalllah di mulutnya. Dari berlawanan arah kelompok perempuan berdesesakan ingin melakukan hal yang sama.
Seorang ibu berteriak histeris ingin agar dia didahulukan. Seorang pemuda, masih ihramnya, dengan gagah mencoba memotong dan berusaha menyingkirkan setiap orang di depannya. Dari luar, muncul teriakan berulang, dengan bahasa yang tidak dimengerti ke arah antrian baris pertama, sejumlah orang saling berpadangan. Hajar Aswad tinggal sejangkauan tangan.
Antrian dipaksa dibelah, orang tua tadi sudah lemah. Dia ditarik keluar dengan susah payah. Mukanya pucat, dada sesak. Beruntung dia masih selamat lalu dipapah oleh kerabatnya. Kejadian itu hanya beberapa belas detik, konsentrasi jemaah kembali ke batu hitam, bagaimana caranya agar bisa menciumnya, atau minimal menjamah.
Pilihan terakhir agaknya lebih rasional, ketika setiap orang di sekitar batu mulai menunjukkan egonya, tak peduli bahwa orang di sebelahnya adalah muslim muslimah dimana mereka dipertautkan oleh tali persaudaraan sebagai orang yang seiman.
Berdesakan, mendorong, berteriak tak pantas di rumah Allah. Itu tak hanya sebagian pria, kaum wanita juga. Pemuda tampan berkursi roda hanya mampu melihat dan khawatir dirinya pun bisa seperti orang tua tadi. Cara yang aman adalah meninggalkan lokasi Hajar Aswad sambil berharap, suatu saat nanti, ketika jumlah yang tawaf sedikit dia akan mencium batu yang dicium Nabi panutannya.
Atau, mungkin dia berharap akan ada jalur khusus bagi dirinya, dan orang yang lemah lainnya, kaum wanita dan anak-anak, untuk bisa mencium dengan leluasa. Bisa juga dia berharap, kaum muslimin menunjukkan moralitas dan sikap yang terpuji, seperti yang diajarkan Nabi, yakni mendahului yang lemah, mengasihi anak-anak, menghormati wanita, dan mendahului yang tua, serta membantu yang cacad, mencium hajar aswad.
Seperti dilansir antaranews.com, budaya itu (budaya antri) sebenarnya sudah banyak di lakukan di tempat-tempat umum, di sejumlah negara maju. Mereka tidak membicarakannya, tetapi mempraktiknya.
Mengenal Penjaga Masjid Tempat Doa Selalu Dikabulkan Allah
berita2.com: Panas menyengat, tidak hanya pada sinar matahari tetapi juga angin yang berhembus, membuat perih di kulit, juga di mata. Dikabarkan suhu kota Madinah bisa mencapai 40 derajat celcius di siang hari.
Tapi, lihatlah, panas itu tidak menghentikan kaum muslimin mendatangi Masjid Nabawi. Masjid terbesar di kota kurma yang dalam satu dekade ini terus mengalami perluasan karena ada program pelebaran di sisi kiri arah kiblat.
Masjid yang semula hanya sebuah bangunan kecil, di sebelah rumah Rasulullah Muhammad SAW setelah hijrah ke Yastrib (Madinah) itu mengalami perluasan berulang kali. Petak kecil, awal mula masjid kini ditandai dengan karpet hijau lumut muda bercorak bunga. Tempat ini menjadi tempat favorit bagi jemaah umroh dari berbagai negara. Tempat itu bernama Raudah.
Diyakini siapa yarg berdoa di tempat ini, insyaallah, akan dikabulkan Allah. Oleh karena itu tidak sedikit jemaah yang ingin shalat, berdoa dan menyatakan penyesalannya serta berjanji akan menjadi muslim yang baik ke depan. Tidak hanya itu, doa juga dipanjatkan untuk sanak keluarga, kerabat, handai tolan, usaha, karier, dan mohon barokah bagi umat muslim lainnya.
Di sebelah kiri Raudah (arah kiblat) terdapat makam Nabi Muhammad beserta dua sahabat dekatnya, yakni Abu Bakar Ashiddiq dan Umar bin Khatab. Dahulu ini adalah rumah Nabi bersama Aisyah (putri Abu Bakar).
Setelah Nabi berpulang, Abu Bakar ingin dikuburkan dekat dengan orang yang sangat dicintainya, Muhammad, maka dua sahabat itu dimakamkan berdekatan, dalam rumah Siti Aisyah.
Menjelang ajalnya tiba, Umar (Amirul Mukminim) meminta ijin kepada Aisyah agar dibolehkan dimakamkan dekat dua sahabatnya, Nabi Muhammad dan Abu Bakar. Tempat yang semulanya diperuntukan Aisyah bagi dirinya, direlakan untuk jasad Umar.
Kini makam tersebut ramai diziarahi oleh jemaah Masjid Nabawi. Makam dan Raudah kini menjadi petak kecil diantara kolom-kolom masive masjid nabi. Petugas keamanan berseragam hijau kecoklat-coklatan, bersama petugas berbaju gamis mengatur agar setiap jemaah mendapat kesempatan shalat dan berdoa di Raudah, juga melintas di depan makam untuk sekadar mengucapkan salam. Masjid yang terasa seluas lapangan sepak bola itu membutuhkan penjaga untuk merawatnya. Dari sekian ratus perawatnya, sekitar 150 di antaranya adalah tenaga kerja Indonesia ((TKI).
Seperti dilansir antaranews.com, mereka menjaga agar masjid berlangit-langit indah dengan kolom melengkung dan berhiasan corak bersepuh emas itu tetap bersih, Al Qur'an tertata kembali setelah dibaca dan air zam-zam di tong-tong bundar berwarna coklat tetap terisi.
Usman (40) adalah satu diantara seratusan TKI yang bekerja di masjid yang kubah aslinya berwarna hijau itu. Dia bertugas menjaga agar air zam-zam selalu tersedia.
Pria beranak dua remaja itu berasal dari Pandegalang, Banten, itu mengenakan seragam hijau tua, bertopi haji, kumis dicukur dan janggut tipis tertata rapih. Sudah tiga tahun dia bekerja di Masjid Nabawi. Dikatakan ringan, kerjanya cukup berat karena harus mangangkat dan mengatur tong-tong air zam-zam tetap terisi. Sukanya, dia sudah berhaji dua kali.
Ini adalah kontraknya kedua. Dia ingin berhenti bekerja di Saudi tiga tahun lagi. Masa itu dinilainya cukup untuk mengajak keluarganya berhaji. Upah yang diterimanya 529 real. Satu real sekitar Rp2500.
Lain lagi dengan Mastur Husin (23). Pria berwajah "baby" itu hanya tamatan tsanawiyah salafi (sekolah pesantren non kelas). Dia juga sudah tiga tahun bekerja di masjid bertenda indah kiri, kanan dan belakang halamannya itu. Dia seangkatan dengan Usman, tetapi lain pekerjaan. Husin bertugas membersihkan lantai jika air zam-zam yang diminum jemaah berceceran. Ditangannya selalu tergenggam tongkat pel untuk membersihkan lantai.
Masa yang sulit dalam bekerja, menurut pria berpostur kecil dan kulit kuning kemerah-merahan itu, adalah saat shalat tarawih, di bulan Ramadhan. Cobaannya, jika ada jemaah shalat (biasanya orang tua) terkencing atau muntah karena ayat yang dibaca panjang-panjang. Biasanya imam shalat tarawih ingin di akhir Ramadhan semua surah Al Qur'an tuntas dibaca.
Husein dan teman-temannya harus segera membersihkannya. Karpet tempat shalat harus segera diganti saat itu juga. Itu pula alasannya, dia dan petugas lainnya tidak boleh ikut shalat tarawih bersamaan karena harus melayani jemaah yang bermasalah tertsebut.
Sukanya, namanya cukup tenar di kampung karena termasuk orang yang beruntung melayani Masjid Nabawi. Secara materi gaji diterimanya sama dengan yang lainnya. Bekerja setahun dengan tiga tahun, sama upahnyan Rp529 real perbulan. Meski demikian, dia optimis bisa membiayai kedua orang tuanya berhaji. Husein menyatakan baru berhenti bekerja jika kedua orang tua sudah menunaikan ibadah haji.
TKI lainnya adalah Aiman (31) asal Warung Konang, Cianjur, Jawa Barat. Bapak dari seorang anak (4 tahun) itu sebelumnya bekerja di Mesjid Quba selama empat bulan, kemudian dipindahkan ke Masjid Nabawi. Bulan ini adalah bulan ketiga, Aiman bekerja di Masjid Nabawi. Tugasnya relatif sederhana, mengembalikan Al Qur'an yang dibaca jemaah ke tempatnya semula.
Seperti, Husein, Aiman juga hanya tamat SD. Dia memuji Ibu Wiwied, pemilik PT Tipar Atmanko yang tidak pilih pilih latar belakang pendidikan calon TKI-nya. Menurut Aiman, Wiwied lebih memilih tekad bekerja dan ingin maju daripada pendidikan formal yang dimiliki calon TKI-nya.
Tugas Aiman terkesan sederhana, karena hanya menata Al Qur'an yang bertserakan setelah dibaca jemaah. Namun dalam kontes ibadah, membaca kitab suci di Masjid Nabawi sangat dianjur selama di dalamid. Karena itu, mendapatkan Al Qur'an pada tempatnya sangat membantu jemaah. Pada praktiknya, sebagian besar jemaah masjid membaca Al Qur'an saat menanti shalat fardhu atau setelahnya.
Ketua Himpunan Pengusaha Jasa TKI (Himsataki) Yunus M Yamani mengatakan sudah sejak lama PT Tipar Atmanko yang memasok TKI untuk keperluan Masjid Nabawi, dan kebutuhan lainnya, temasuk tenaga kerja hotel dan restauran. Khusus, untuk kebutuhan Masjid Nabawi, Yunus membei apresiasida PT Tipar. Semakin banyak orang Indonesia yang melayani jemaah di masjid itu akan lebih baik karena akan mengharumkan nama Indonesia.
Masjid yang dikunjungi jemaah dari banyak negara dirawat dan dijaga selama 24 jam oleh orang Indonesia. Hari masih gelap ketika azan subuh pertama berkumandang pada pukul 03.00 dini hari. Jemaah masjid mulai berdatangan dari segala penjuru.
Kantuk yang menggantung di kelopak mata terasa hilang ketika udara hangat musim panas menerpa wajah. Shalat subuh lebih baik dari pada tidur terlihat wujudnya di masjid luas serasa lapangan sepak bola itu. Ketika takbir pertama tanda shalat subuh dimulai, saf-saf panjang, berbaris hingga ke belakang terisi penuh. Jemaah ingin mengejar sorga seperti yang dikabar Rasulullah Muhammad SAW sekitar 1400-an tahun lalu. Jika masjid itu terawad, bersih dan nyaman, ada andil tenaga kerja Indonesia di dalamnya. Mereka adalah perawat dan penjaga Rumah Allah yang sesungguhnya.
Halaman 1 dari 7
Artikel

















